Kecantikan Sekantong Teh



Menapaki usia yang bukan remaja lagi, semestinya membuat seorang perempuan semakin bergegas. Walaupun harus senantiasa disadari, bahwa meraih bintang bukanlah perkara mudah.  Garis kerutan wajah yang kian bertambah, kekencangan kulit yang mulai hilang, semua itu adalah bukti dari jejak-jejak kehidupan. Seorang perempuan harus melewati berbagai rintangan agar sesuatu yang diinginkan dapat terwujud sempurna. 

Sebagai pemimpin di sebuah istana kecil, sebelumnya aku mengira dirinya terlalu lamban dalam menyikapi setiap fenomena ‘aneh’ di belantara kehidupan kami. Tapi hari ini aku berujar berbeda, “Dia justru telah menjadi permaisuriku yang sempurna”. Kecantikannya adalah inspirasi yang membuatku harus terus bangkit dan bergerak lebih kencang, demi sebuah janji pada Khalik, dan terlebih bagi si dia, putri kecil kami yang amat membanggakan.


A woman is like a tea bag. You never know how strong she is until she gets into hot wate
---Eleanor Roosevelt---



Awalan yang membingungkan

“Mamah tua banget ya, pah?!” 
Begitu kalimat yang pernah ia ucapkan di petengahan Juli 2015 yang lalu. Saat itu aku tidak segera menjawabnya. Aku pikir, menjawab pun pasti akan mengecewakan baginya, tidak pun juga demikian.  Aku memutuskan untuk sekedar melempar senyum simpul sembari mendaratkan kecupan mesra di keningnya. 

Ilustrasi : http://il6.picdn.net/shutterstock/videos/11475464/thumb/1.jpg


Tapi sikapku yang setengah dingin rupanya tak jua memuaskan hatinya. Ia kembali menggerutu dengan melempar pertanyaan yang sebenarnya bertema kurang-lebih sama. “Papah kan biasa bergaul dengan gadis-gadis muda yang lebih kencang. Pasti papah mau bilang kalau mamah ini tua, ya kan?!” Mendengarnya, spontan aku ingin melontarkan beberapa kalimat dengan maksud menenangkan, tapi beruntung, si kecilku memanggil dari seberang  sana, “Maahh... banyak ayam!!!”. Ah, akhirnya aku selamat juga, demikian gumamku.

Begitulah kehidupan kami. Kami adalah keluarga kecil yang tinggal di pedesaan dan serba sederhana. Kami tak pernah malu untuk melakukan segala sesuatu yang dianggap ‘sekedar’ mencukupi kebutuhan dapur. Saat libur tiba, kami bahu-membahu melakukan berbagai pekerjaan rumah. Termasuk diantaranya melakoni pekerjaan-pekerjaan yang jarang dilakukan oleh orang-orang kota pada umumnya. Terlebih lagi bagi perempuan kota yang biasanya lebih senang memanjakan diri di salon-salon kecantikan.

Ketika libur tiba, kami berupaya untuk melakukan sesuatu bersama-sama. Salah satunya adalah mengeringkan padi milik mertuaku. Maklumlah, kami masih belum punya cukup biaya untuk sekedar membuat gubuk kecil yang kami impikan. Membantu orang tua tentu hal yang lumrah, toh kami masih ‘nitip’ perut kami dari hasil pertanian yang jumlahnya tak seberapa. Hanya cukup untuk makan sampai panen berikutnya.


Keringatmu, inspirasiku!
Aku pikir, ia begitu strong. Bukan cuma hatinya, tapi badannya. Di hari jelang siang yang memerah itu, kami berdua menggotong padi-padi basah dalam karung, dari ruang tengah menuju halaman depan. Meratakannya di lantai halaman yang luas, lalu menungguinya hingga kering.  Ketika masih ada pekerjaan lain, tak jarang si kecil pun turut membantu. Walaupun hanya sekedar mengusir ayam-ayam tetangga yang hendak menyerbu padi-padi kami.

Tak terbayangkan seorang gadis yang dulu begitu manja, kini telah berubah menjadi wanita dewasa yang amat pekerja keras. Ketika kami bersama-sama mengangkat karung berisi padi-padi basah berkisar 40 kiloan, tak ia sadari jika sebenarnya aku sering kali mencuri pandang darinya. Memandangi matanya dan menyaksikan tetes-tetes keringat yang mengucur dari keningnya. “Dalam keadaan ini, jujur aku makin jatuh cinta kepadanya. 

Ilustrasi : http://4.bp.blogspot.com/_KLJU3hHDGVM/TCA-6x6GOJI/AAAAAAAACX4/J7kbUUbVC-M/s1600/Emeral-eyes_1440x900.jpg


Demikianlah suara batinku  kala itu. Diam-diam, hatiku berbisik bangga sembari melempar senyum-senyum ‘aneh’ yang seolah tanpa sebab. “Apaan si, lagi repot malah ketawa!” Ungkapnya bernada setengah ketus. Kejadian yang demikian bukan kali pertama, di kesempatan lain, aku sering mencuri pandang padanya, terutama ketika dirinya sedang melakukan pekerjaan yang menyita energi. Bagiku, keringat yang menetes dari seorang istri yang bekerja dengan tulus, adalah pemandangan terindah bagi suami.

Sejujurnya, sebagai seorang pendamping yang senantiasa mengamati dirinya dari waktu ke waktu, aku merasa banyak hal yang berubah dari wajahnya, terlebih tubuhnya. Mulai dari garis wajah yang tampak jelas membentuk kerutan-kerutan, hingga tubuh yang tidak proporsional seperti sedia kala, tepatnya ketika dulu ia belum melahirkan si kecil. 

Tapi, aku nyaris tak pernah mengatakan apapun tentang itu, walau ia kerap menunjukkan ekspresi jiwanya atas keadaan yang ia alami, “Pah, kalau kita banyak uang, asyik kali ya? Mamah bisa facial kayak teman-teman Mamah. Salon tikungan depan katanya murah lho, pah. Facial cuma dua puluh ribu, creambath juga cuma dua puluh lima ribu!” 

Mendengarnya, akupun selalu dan selalu berupaya mengatakan hal-hal yang melegakan. Dengan gayaku yang khas dan kerap membuatnya tertawa geli, aku mengalihkan perhatiannya agar bibirnya tidak terus-merus nyerocos. “Tenang, mah. Kepala papah sering pusing. Kata orang-orang, itu adalah pertanda bahwa papah akan segera kaya!”. Akupun harus menerima cubitan sekelas gigitan kalajengking tatkala ia merespon kelakarku. Menurutku, dalam keadaan tertentu, seorang suami harus cakap dalam memekarkan suasana.



Buah ‘misterius’ yang menggelikan

Sebagai suami yang semestinya mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga, kadang aku merasa begitu tidak berharga. Menyaksikan kehidupan keluarga kecil kami yang serba pas-pasan, tentu menyimpan masalah tersendiri. Termasuk perasaan kecewaku yang belum mampu memenuhi keinginanya dalam merawat kecantikan. 

Tapi, aku yakin kelak hal itu akan terwujud, walaupun jika memandang kehidupan kami sekarang, rasanya belum begitu mudah terlaksana. Masalahnya cuma satu, masih banyak kebutuhan mendesak lainnya yang harus segera tercukupi.

Hingga di suatu siang menjelang sore, perjalananku pulang bekerja aku gunakan untuk melarak-lirik keadaan sekeliling jalan. Harapanku satu, kira-kira bisnis jenis apa yang memungkinkan kami mendapatkan uang tambahan. Maklumlah, sebagai karyawan kecil, rasanya aku perlu memutar otak lebih keras agar dapat menemukan ide usaha yang mungkin berkembang menjadi kesempatan emas dan berbuah rejeki.

Sampailah aku di sebuah warung sayur yang tak begitu besar. Sebelumnya, dari balik kaca helm aku melihat ada salah satu jenis buah berwarna putih yang membuatku ingin turun dan membelinya. Ah, mungkin ini ide yang bagus. Aku berupaya untuk membeli ditambah dengan satu jenis sayuran lainnya. 

Sesampai di rumah, aku segera meletakkan kedua jenis buah dan sayur itu di ruang belakang. Tanpa banyak bercakap, aku hanya melontarkan beberapa kalimat ketika menyaksikan ia tengah repot mengurus pekerjaan dapurnya. Aku pikir, dia sedang begitu serius, jadi kuputuskan untuk melakukan pekerjaan lainnya dan dilanjutkan beristirahat siang secukupnya.  

Empat puluh lima menit aku pikir cukup untuk tidur siang. Kini saatnya bangun dan melaksakan tugas harianku, memandikan si kecil yang hendak berangkat mengaji. Usai semua tugas rapih, aku mencium aroma wangi makanan dari arah belakang. Kuhampiri istriku yang saat itu berwajah datar, “Mah, bengkoang dan ketimun papah dimana? Tadi papah taruh di meja ini...” 

Ilustrasi : http://abiummi.com/assets/uploads/2015/03/3-Rahasia-Cantik-Alami-dengan-Membuat-Masker-Sendiri-06_Bengkuang.jpg


Dia tidak menjawab pertanyaanku, kulihat dia menghampiriku dan membawakan sepiring makanan yang tampak siap saji. “Ini dia, rujak spesial bikinan mamah khusus untuk suamiku yang kadang-kadang bikin snewen. Selamat menikmati...!” 

Aku kaget bukan kepalang, berkali aku menepuk jidat dan melontarkan kalimat bernada kecewa, “Aduh, Mamah! Ini bukan untuk rujak! Maksud Papah itu...” Belum selesai aku berbicara, ia sudah mengungkapkan sesuatu lebih dulu. “Maksud Papah mau dimakan langsung? Kebetulan masih ada sisa kacang tanah, jadi mamah bikinkan rujak untuk papah! Kenapa papah jadi sewot begitu?” Aku tidak lekas menjawab, aku pikir percuma saja. Toh, jika aku berupaya menjelaskan lebih mendetail, bahkan nanti malah menghilangkan selera makan kami. 

Sembari menikmati lezatnya rujak bengkuang dan ketimun bikinan istriku, aku pun berupaya mengobrol dengan gaya yang lebih riang dan santai. Pikirku, agar ia tidak lekas menuduhku yang bukan-bukan. “Maksud Papah tadi, Papah itu beli bengkoang dan ketimun bukan untuk dibikin rujak, mah. Tapi untuk diparut dan dibuat masker wajah. Tujuannya, supaya wajah mamah semakin cantik. Jadi mamah nggak peru lagi facial ke salon. Tapi, berhubung sudah terlanjur dibikin rujak, ya sudah...” 

Ia kemudian tersenyum tipis, mulutnya yang masih mengecap makanan mengeluarkan beberapa kalimat yang terdengar tidak begitu nyaring, “Ohh... itu maksudnya. Hehehe... ya okelah kalau begitu, Pah. Ngomong-ngomong, papah perhatian juga ya ke mamah..” Mendengar kalimat itu, kini giliranku untuk membalas dendam dengan melakukan cubitan khas ala binatang melata. Hingga di kesempatan selanjutnya, aku sering melihat istriku menempelkan sari bengkuang di wajahnya dan menaruh potongan ketimun hingga menutup kedua matanya. “Wanita cerdas”, pikirku.


Sekedar berbagi. Berdasarkan pengalaman istriku dalam menggunakan masker bengkoang sebagai produk perawatan kecantikan alami, rupanya ada satu hal yang sering luput dari perhatian para perempuan. Banyak yang melakukan cara keliru dengan jalan menempelkan parutan bengkoang hingga menutupi wajah. Padahal, cara menggunakan masker bengkoang yang benar yaitu dengan menampung air hasil perasan bengkoang dan mendiamkannya hingga mengendap. Endapan air perasan itu yang nanti akan berubah menjadi sejenis tepung yang dapat digunakan sebagi masker. Jadi, jangan keliru ya?

Ilustrasi : http://www.cantikalamiah.com/wp-content/uploads/2015/08/Manfaat-Bengkoang-untuk-Wajah-dan-Kulit.png

Menurut para ahli, ada beberapa manfaat yang diperoleh dari masker alami jenis ini. Beberapa diantaranya adalah menghilangkan noda hitam bekas jerawat, menyegarkan kulit wajah, memutihkan kulit wajah. Dan, yang tak kalah penting adalah mencegah penuaan dini. Ini sangat cocok digunakan bagi mereka yang memiliki usia 35 tahunan ke atas. Namun layaknya perawatan wajah secara alami, biasanya memerlukan kesabaran dan tingkat rutinitas yang harus terus-menerus. Jia masih ada rasa malas, jangan berharap akan segera mendapatkan hasil yang optimal. 

Ilustrasi : http://news.siamphone.com/upload/news/nw04781/01.jpg

Jika mengehendaki perawatan dengan jalan yang lebih ekstra dan dengan hasil yang efisien, tentu kita dapat menggunakan produk-produk bermutu tinggi seperti halnya produk LO’real Paris. Salah satunya adalah L’Oreal Revitalift Dermalift. Produk ini bekerja menstimulasi 8 natural lifters pada kulit wajah untuk mengoptimalkan regenerasi kulit wajah. Saat bangun tidur, kulit terasa lembab, lembut dan nyaman. Kulit terasa lebih halus dan elastis, kerut pun tersamarkan. 



Badai yang datang silih berganti

Tahap kehidupan kami selanjutnya adalah badai yang senantiasa datang menerpa. Mulai dari si kecilku yang bolak-balik masuk rumah sakit karena menderita permasalahan pencernaan, hingga belum tercukupinya kebutuhan sehari-hari kami. Keadaan ekonomi kami ternyata belum juga bergerak menanjak. Akibat masalah ini, si kecilku pun seperti berubah seketika. Keceriaanya menjadi berkurang. Ia gampang marah dan sering menolak untuk makan.

Ilustrasi : http://www.radioaustralia.net.au/sites/default/files/images/2014/11/28/5924232-16x9-940x529169.jpg

Merasa sudah kehabisan banyak energi finansial, akhirnya kami sepakat untuk menjual beberapa perhiasan emas bawaanku ketika menikah dulu. Hasilnya kami gunakan untuk menanggung biaya-biaya rumah sakit.  Ditambah lagi perawatan rutin ke dokter spesialis anak. Ekonomi kami menurun drastis, apa yang sedia kala kami rencanakan, kini seolah menemui jalan buntu.

Hingga di suatu ketika ada sebuah kesempatan emas yang aku baca di website resmi Kabupaten sebelah. Cukup menarik, lomba menulis artikel berhadian 2,5 juta rupiah. Malam itu aku memandangi istri dan anakku yang tengah tertidur pulas. Aku mengusap rambut mereka, dan mencium kening-kening kedua Malaikatku itu. Mulailah aku mengetik beberapa paragraf, air mataku jatuh menetes. Batinku berucap, apapun dan bagaimanapun keadaan ini, aku tidak ingin mereka tahu bahwa aku begitu sedih dengan segala cobaan ini. Kupikir, aku harus bangkit!



Awalan yang cerah

Hari cerah di bulan November kala itu. Suara ponselku berbunyi dan seorang perempuan di seberang sana mengabarkan bahwa aku diminta untuk membuka internet dan membaca pengumuman lomba. Dengan meminjam fasilitas internet di ruang kantor tempat kerjaku, aku melihat namaku terpampang pada urutan 1. Ah, tak terbayangkan rasanya, ternyata segala sesuatu yang diawali dengan niatan yang tulus pada akhirnya berbuah kemenangan.

Dokumentasi Pribadi


Aku pulang dan mengabarkan berita gembira itu pada istriku. Kami bertiga saling berpelukan penuh rasa haru. “Akhirnya, kita dapat modal untuk usaha jual  pakaian, Pah” Sahutnya dengan maksud menegaskan tentang rencana-rencana yang sudah kami susun beberapa waktu sebelumnya. 

Sejak saat ini, semangatku semakin terpacu. Aku mencoba mengembangkan ide dalam bentuk tulisan dan dikirman ke berbagai media. Ternyata sepanjang 6 bulan sejak itu,  belum juga ada gambaran apapun. Hingga di suatu malam, aku merasa benar-benar depresi. Ia mengampiriku dalam keadaan aku tengah mengetik beberapa naskah lomba menulis. “Pah, uang hasil juara papah mau dipakai orang. Dia sangat membutuhkan, Pah! Tapi, dia bilang si...” melihat reaksi wajahku, dia seperti tidak melanjutkan pembicaraan.

Merasa aku menemui jalan buntu dalam mengembangkan ide menulis, akhirnya tiba-tiba emosiku memuncak. “Terserah, mau kau apakan uang itu, aku tidak peduli!” Dia pun meninggalkanku dan bergegas tidur tanpa banyak bicara. Dia faham, dalam konsdisi seperti itu, tidak ada jalan lain kecuali diam dan menenangkan diri.



Panen indah berikutnya

Pagi yang terik, seperti biasa kami harus menjemur padi-padi basah. “Papah angkat padi sendiri, ya? Jika terlalu berat, Papah coba pinjam troli rumah sebelah, barang kali tidak terpakai”. Aku menghela nafas panjang, “Kalau sedemikian banyak, rasanya aku lebih baik tidur saja. Kalau puny sendiri semua, baru enak!” Begitu ungkapku pertanda tumbuh rasa kecewa melihat padi-padi basah sedemikian banyak yang musti diangkat sendiri. “Memangnya itu padi siapa? Itu milik kita, Pah!! Milik kita....! Aku tak habis pikir dengan apa yang ia katakan, entah apa maksudnya. 

Setengah bagian sudah aku jemur, kini saatnya aku duduk berkipas-kipas karena menahan teriknya mentari. Istriku datang menghampiri dan membawakan secangkir teh untukku lalu  mengatakan sesuatu dengan nada yang begitu lugas, “Sebagian padi itu adalah milik kita, pah. Iya, milik kita! Itu adalah hasil dari hadiah papah menulis!” Seketika aku kaget, lalu mencoba menggali jawaban-jawaban lain darinya.

“Lho, bukannya uang itu... Kan katanya dipinjam?” demikian pertanyaanku penuh rasa penasaran. Ia menjawab dengan penuh semangat. “Dipinjam bukan berarti tanpa hasil. Maksudnya dipinjam itu, ada tetanggga yang sedang membutuhkan uang mendadak. Dia menawarkan mamah untuk menggarap sawahnya dengan cara sewa. Uang itu mamah kasih ke dia sebagai jasa penyewaan. Dan hasilnya ternyata.. kalau dihitung-hitung, kita bisa untung 2 juta lagi, Pah! Waktu itu, Mamah nggak bisa jelaskan karena belum apa-apa Papah sudah memotong pembicaraan!”

Mendengarnya aku tertawa kegirangan. Tak kusadari bahwa dia begitu sempurna. Sebulan berikutnya kami sudah dapat memulai membuka usaha berjualan pakaian muslim, dan hasilnya juga cukup lumayan. Kini, kami dapat menikmati keadaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan berita menariknya lagi, ternyata si kecilku mendapat juara 1 lomba kakang mbekayu (sejenis abang-none) di sekolahnya. Itu pun membuat kebahagiaan kami kian lengkap saja. Tak kusangka, peri kecil yang dulu bolak-balik opname di rumah sakit, kini dapat menunjukkan prestasi yang membanggakan. 

Terlebih dia, istriku.  Dia bahkan bukan sekedar cantik, tapi dia adalah perempuan terhebat  yang aku miliki. Kecantikanmu kian bersinar kendati kau harus terbenam dalam pengalaman kehidupan yang sedemian peliknya. Sebelumnya aku mengira engkau terlalu lamban dalam menyikapi setiap fenomena ‘aneh’ di belantara kehidupan kami. Tapi hari ini aku berujar berbeda, “Kau justru telah menjadi permaisuriku yang sempurna”. 

Kecantikanmu adalah inspirasi yang membuatku harus terus bangkit dan bergerak lebih kencang, demi sebuah janji pada Khalik, dan terlebih bagi si dia, putri kecil kami yang amat membanggakan.

Penuh inspirasi di usia cantik (Dokumentasi Pribadi)


A woman is like a tea bag. You never know how strong she is until she gets into hot water. Seorang perempuan itu seperti kantong teh. Kau tidak akan pernah tahu seberapa kuat dirinya hingga dia dibenamkan dalam air panas.  (Eleanor Roosevelt).


Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.

Tags : BP Network, L’Oreal Revitalift Dermalift.


0 Response to "Kecantikan Sekantong Teh "

Posting Komentar