Inspirasi Honda yang Membanggakan Bangsa



Berpetualang dari kampung ke kampung memang mengasyikkan. Berlalu menyusuri jalan desa yang kaya oksigen, singgah di bengkel-bengkel kecil dan berbagi kisah menarik, menjadi pengalaman bersosialita yang sarat kesan. Bahasa keren-nya, adalah menggali informasi seputar dunia otomatif di level bawah. Dalam konteks “wong cilik”, mengobrol tentang bagaimana masyarakat kecil memaknai ‘inspirasi Astra’,  bahkan terkesan kian greget dan membikin penasaran.

Di pagi menjelang siang, Subhan (52), tengah asyik mengotak-atik sepeda motor merk Honda milik pelanggannya. Bengkel miliknya yang berlokasi di Desa Gentawangi, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, sedang tidak begitu ramai. Itulah mengapa ketika  membuka obrolan dengan pria yang akrab disapa Han ini, ia menyambutnya penuh hangat.   Selain kecakapan memperbaiki sepeda motor terbilang mumpuni, pembawaannya yang ramah menjadikan bengkelnya diminati oleh orang di kampungnya, bahkan meluas hingga ke kampung-kampung seberang.

Si Kumbang yang Setia (Dok. Pribadi)

Diiringi gelak tawa di sela-sela perbincangan, sosok Han yang low profile menuturkan hal menarik tentang sepeda motor merk Honda. Pengalamannya membengkel selama kurang lebih 15 tahun, terbilang sudah banyak makan asam garam. “Motor Honda itu unik, pokoknya unik!”, demikian Han mengungkap sepenggal kalimat dengan penuh ekspresi. Diantara keringat yang mulai menetes, Han seperti ingin menegaskan bahwa berbicara tentang Honda, tidak melulu membahas dunia otomotif. “Honda itu bukan cuma motor, tapi Honda adalah kehidupan masyarakat itu sendiri” ujar Han mantap.

Bengkel Hans Motor (Dok. Pribadi)
Benar saja, selain kerap menyinggung hakikat kehidupan, rupanya ia ingin memberi makna tentang keberadaan Honda dari sudut pandang yang berbeda. “Kalau tidak percaya, coba pahami Bapak-bapak yang tadi”. Han berucap lirih sembari mengarahkan pandangannya kepada seseorang yang baru saja meninggalkan bengkelnya. “Dia itu Bapak yang malang. Kakinya lumpuh dan kondisinya miskin. Dengan astrea grand butut itu, ia masih dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga”. Perbincangan mendadak hening, kami pun saling tatap. Pemandangan barusan mengisyaratkan bahwa berbekal sepeda motor Honda yang dimodifikasi, bahkan seorang cacat dapat terus berkarya.

“Awalnya, dia  bercerita tentang kakinya yang tidak normal. Dia itu sempat menitikkan air mata. Terutama ketika menceritakan anak-anaknya yang seolah acuh padanya. Mungkin malu atau bagaimana, saya juga kurang faham” Lanjut Han melengkapi pembicaraan. “Motor butut itu dimodif, ban belakang dibuat dobel. Naik turun motor juga meski dibantu. Tapi toh ia tetap bisa bekerja”.  Tutur Han yang kini nampak lebih bersemangat. Menurut Han, pengalaman tadi adalah bukti bahwa Honda telah menyentuh kehidupan bawah yang terbilang dramatis.

Sosok Han yang low profile (Dok. Pribadi)

Bukankah tidak harus Honda? Pikiran itu tiba-tiba muncul untuk menepis penyataan Han sebelumnya. Jawaban Han, malah mengejutkan. Ia punya pendapat yang bisa dibilang fenomenal. “Orang bawah itu lebih suka main aman.  Pakai motor juga yang benar-benar bisa diandalkan, terutama untuk kegiatan sehari-hari. Selain untuk transport, mereka sering menggunakan untuk mengangkut barang-barang berat seperti gabah atau hasil pertanian lainnya. Orang-orang kecil itu tidak berpikir terlalu rumit. Sadar kondisi ekonominya yang pas-pasan, mereka cari motor ya yang benar-benar handal, terutama irit. Kalau rusak, sparepart aslinya murah dan melimpah”.

Ungkapan Han, cukup  membuat kagum. Melihat ekspresi yang kaku, sepertinya ia tidak ingin melanjutkan perbincangan dengan nuansa penuh kesyahduan.   Ia melempar joke bernada menggelikan. “Jangan anggap sepele walau cuma bensin sesendok. Asalkan motornya Honda, bisa digunakan untuk bolak-balik ke sawah mengangkut gabah, mengantar anak sekolah, atau membeli mie ayam di kampung seberang” Demikian Han mencoba berkelakar. Dan kini saatnya menyerang balik candaannya dengan pernyataan yang anti mainstream, “Kayaknya nggak perlu sesendok, mas. Cukup dengan bau bensin yang diangin-angin, motor Honda masih bisa jalan!”. Gelak tawa lepas akhirnya memecah diantara kami.

“Makanya tadi kan saya bilang, kalau membahas motor Honda itu ya sebenarnya sedang memaknai kehidupan masyarakat itu sendiri. Orang-orang pakai Honda bukan sekedar untuk bepergian, tapi untuk mengisi kehidupan. Kalaupun mereka meski ganti baru, biasanya tidak jauh dari Honda. Alasannya, ya seperti yang saya bilang tadi” Han bermaksud menuturkan bahwa bagi masyarakat kecil, penggunaan sepeda motor Honda merupakan perjalanan bersejarah dalam mengisi kehidupan. Mereka yang sudah kadung percaya, akan senantiasa setia dengan Honda. Alasannya, karena Honda adalah sepeda motor yang paling memahami kondisi masyarakat kecil.

Suasana Bengkel Han (Dok. Pribadi)
Bak gayung bersambut, kini saatnya merenyahkan obrolan dengan mengingat pengalaman saya semasa kecil. “Dulu waktu saya kecil, teman-teman sepermainan malah tidak pernah menyebut sepeda motor dengan istilah ‘motor’. Mereka menyebutnya dengan sebutan Honda. Masih ingat ketika Bapak saya menasehati agar berhati-hati ketika menyeberang jalan. Dia bilang, hati-hati kalau menyeberang, nanti ada Honda lewat! Padahal, kemungkinan sepeda motor yang mungkin lewat belum tentu merk Honda” Han tertawa geli menanggapi cerita tadi.

Melihat beberapa orang yang mulai berdatangan, tak bijak rasanya bila harus terus-menerus mengajaknya mengobrol. Sembari menikmati hawa udara yang sejuk, kini saatnya menyaksikan keadaan sekeliling bengkel. Sebetulnya, halaman bengkelnya tidak terlalu sempit, namun selalu saja tampak sesak dengan sepeda motor yang tertata bak di parkiran. Yang jelas, motor-motor itu tidak semuanya milik pelanggan, namun selain membengkel, Han punya bisnis sampingan jual beli motor bekas. Kurang lebih 95%, sepeda motor yang ada di sana merek Honda.

Berdiri sekian menit, Han tampak memanggil. “Minumnya di sana!” Ia menunjuk kardus berisi air mineral yang terletak di atas tempat duduk yang terbuat dari bambu. Sembari meneguk segelas air, pandangan saya kembali tertuju pada deretan motor bekas yang terparkir rapih di depan bengkel. “Jangan cuma dilihat, tapi dibeli!” Demikian Han melontarkan sepenggal kalimat. Saya pikir, kurang lengkap rasanya jika pergi meninggalkan bengkelnya, tidak sempat mengkaji fenomena unik motor-motor bekas itu.

Beruntung Han kembali santai, ia pun menuturkan tentang bisnis sampingannya berjualan sepeda motor bekas. Motor-motor itu ia beli dari pelanggan setianya dengan alasan yang beragam. Ada yang ingin ganti baru, atau karena kepentok kebutuhan. “Nah ini uniknya orang desa. Kalau sedang terbentur masalah uang, ada juga yang menjual motor. Terus terang, kalau merk Honda, harga bekasnya tidak membuat geleng-geleng kepala. Setidak-tidaknya, mereka itu tidak terlalu kecewa dengan harga yang saya tawarkan. Kasihan juga kan kalau harganya sangat jatuh. Sudah susah, masih harus menanggung rasa kecewa”. Ujar Han bernada mantap.
 
Bisnis sampingan Han, jual beli motor bekas (Dok. Pribadi)
Dari sana, terselip sebuah pembelajaran. Kenyataan bahwa harga jual sepeda motor Honda yang dinilai bersahabat, cukup dapat membantu mengatasi kesulitan orang-orang kecil. Mungkin saja, ini adalah satu dari sekian banyak faktor mengapa masyarakat lebih memilih Honda. Selain mampu menjawab kebutuhan masyarakat bawah, keberadaan Honda dinilai mampu memberikan rasa nyaman, terutama ketika membutuhkan dana cepat.  Hal menarik ini turut menjadi catatan istimewa untuk melengkapi kajian sederhana tentang eksistensi Honda di level terbawah.

Bagi Han, minat masayarakat bawah terhadap Honda bukan tanpa alasan. Ketepatan dan kecermatan produsen sepeda motor Honda dalam menghadirkan produk yang baik, dinilai telah menumbuhkan kepercayaan masyarakat. Menurutnya, keberadaan Honda telah mengiringi perjuangan masyarakat dalam mengisi kehidupan. Orang-orang kecil percaya, bahwa dengan memilih sepeda motor Honda, mereka mendapatkan jaminan rasa aman dan nyaman. Selain kualitas dan harga jual kembali yang dapat diandalkan, perawatan terhadap sepeda motor Honda terbilang  murah.

Usai berpamitan dengan Han, kini saatnya melanjutkan perjalanan.  Singgahlah di suatu bengkel bernama Sis Motor. Lokasinya kurang lebih berjarak 8 kilometer dari bengkel kepunyaan Subhan. Tepatnya di Desa Purwojati, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas. Bernama lengkap Siswo Handoyo (56), pria paruh baya yang dua tahun lalu naik haji, adalah sosok si empunya bengkel. Pembawaannya kalem, sepertinya tidak begitu gemar berkelakar. Namun, dengan melihat bengkelnya yang ramai, cukup menyimpulkan bahwa Haji Sis, demikian ia disapa, adalah pemain lama yang terbilang moncer.

Suasana bengkel Haji Sis (Dok. Pribadi)


Dua puluh tahunan mengelola bengkel, ia sudah tidak lagi berkelumur oli dan kotornya kerak mesin. Pasalnya, ada beberapa karyawan yang siap mem-back up aktivitas kerjanya. Membuka perbincangan, Haji Sis mengutarakan minat masyarakat terhadap produk Honda yang kian meningkat. Menyoal alasan, kurang lebihnya sama dengan Han. Honda dinilai sangat mewakili kondisi ekonomi masyarakat menengah ke bawah. Selain mutu yang baik dan suku cadang yang melimpah, harga jual kembali sepeda motor Honda tidak mengecewakan. Faktor-faktor sejenis itulah yang dianggap Haji Sis menjadikan Honda kian laris bak kacang goreng.

“Motor Honda punya bentuk yang bagus, banyak disukai orang. Lebih-lebih Honda matic, penggemarnya semakin banyak saja. Biasanya anak-anak remaja yang paling gemar dengan motor ini. Tapi kepraktisan matic pada akhirnya dilirik juga oleh orang-orang tua yang dulu sukanya motor bebek” Ujar Haji Sis menyikapi fenomena sepeda motor matic Honda yang kian populer. Menurutnya, popularitas sepeda motor matic terutama pada kalangan remaja. Namun melihat berbagai sisi kelebihannya, bahkan semakin banyak diminati oleh semua kalangan.
 
Aktivitas karyawan Sis Motor (Dok. Pribadi)
Menyingkap lebih dalam tabir dibalik larisnya sepeda motor Honda, Haji Sis punya pernyataan yang cukup mengesankan. Baginya, minat masyarakat yang tinggi dipengaruhi oleh sekian banyak faktor. Salah satunya adalah inovasi dan kemampuan Honda dalam menjawab suara-suara yang berkembang di bawah. “Awal mula munculnya Beat, banyak yang bilang bodi-nya kurang mantap dan cenderung kerempeng. Keluaran berikutnya, Beat tampil semakin bagus. Beberapa pelanggan sempat mengobrolkan tentang bunyi ‘jeglug’ tiap kali menyalakan motor matic-nya. Sekarang sudah tidak ada lagi yang seperti itu” Ungkap Haji Sis sembari menebar senyum simpul.

Menurut Haji Sis, selain produsen sepeda motor Honda yang menghadirkan produk yang mampu menjawab tuntutan masyarakat, peran bengkel-bengkel seperti dirinya juga tidak bisa dianggap remeh.  “Menjadi bengkel kecil seperti kami ini tidak mudah, harus sabar dan tulus dalam melayani masyarakat.  Kalau hanya sekedar ganti oli atau servis rutin itu si gampang, sudah ketahuan harga dan waktu pengerjaannya”. Ujar Haji Sis yang bermaksud mengemukakan bahwa ada hal-hal lain yang meski dilakukan dalam memahami kebutuhan konsumen.

Haji Sis bersama istrinya (Dok. Pribadi)
“Kalau orang yang berpengalaman, merawat kerusakan kecil seperti kap motor yang kendor karena getaran, mestinya dapat dilakukan sendiri. Tapi entah karena tidak tahu atau tidak mau tahu, lama-kelamaan ya pecah. Kalau sudah begitu mana mungkin mereka mau ganti baru. Akhirnya, ya bengkel-bengkel seperti kami ini yang harus telaten mengakali. Mengikat, mengelem, menyolder dan macam-macam. Pekerjaan seperti itu kan sebenarnya rumit dan membutuhkan waktu lama, tapi ongkos jasanya tidak seberapa. Bagaimana lagi, kalau kami tidak mau memperhatikan hal itu, ya pelanggan akan lari”

Berkaca dari  pernyataan sosok Haji Sis, rupanya cukup untuk mengungkap fakta tentang sepeda motor Honda, terutama di kalangan bawah. Mungkin ada benarnya, bahwa perkembangan sepeda motor Honda yang kian bersinar, turut disokong pula oleh pemilik bengkel yang tumbuh di desa-desa seperti dirinya. Baginya, kesetian melayani masyarakat dengan sabar dan telaten, adalah kunci keberhasilannya dalam berbisnis. Dalam skala yang lebih luas, figur-figur seperti Haji Sis telah turut serta membangun bangsa bersama PT Astra International Tbk selaku produsen sepeda motor Honda, yakni dalam menjawab kebutuhan masyarakat bawah yang sangat heterogen.

Kesibukan di bengkel Haji Sis (Dok.Pribadi)
Kurang lebih 15 menit mengobrol, tampak seorang pria menghampiri. “Olinya, Ji, yang murah saja” Ujarnya bermaksud meminta Haji Sis mengambilkan pelumas mesin untuk keperluan servis. Haji Sis pun balik bertanya, “Yang murah apa yang bagus?” Pria berkumis itu menanggapi pertanyaan Haji Sis dengan santai. “Ya kalau bisa yang bagus tapi juga yang murah!” Tanpa banyak berargumen, Haji Sis melontarkan pertanyaan berikutnya. “Kalau yang murah tapi jelek, masih mau juga?” “Enak saja, kalau nanti motor saya cepat rusak gara-gara sampeyan, saya  nggak mau servis di sini lagi!” Haji Sis tersenyum tipis sembari menyodorkan pelumas mesin bertuliskan Federal.  

Menyaksikan kejadian tersebut, tergambar jelas bahwa mereka berdua sebenarnya tidak sedang bersitegang. Namun ungkapan-ungkapannya, telah memunculkan beberapa pertanyaan yang menggelitik. Salah satunya, mengapa Haji Sis tidak merekomendasikan pelumas mesin yang lebih murah selain kepunyaan Astra? Toh, pelanggan juga tidak bakalan komplain, dan ia juga tetap dapat untung? Rupanya ia punya alasan yang cukup kuat. “Masalahnya dia minta yang murah tapi tidak mau ambil resiko, itu kan aneh. Jika nantinya baru sebentar ia mengeluh motornya tidak nyaman, kan akan kembali ke saya-saya juga. Jadi, ya sangat tepat kalau saya pilihkan oli itu” Kali  ini Haji Sis menjawab pertanyaan dengan wajah yang jauh lebih sumringah.

Disadari atau tidak, perbincangan sederhana di atas telah mengisyaratkan adanya ‘rantai kait’ antara produk Astra, bengkel-bengkel dan masyarakat bawah. Ketiganya saling bertautan satu sama lain hingga membentuk budaya unik yang secara tidak langsung menciptakan promosi alamiah. Haji Sis mungkin tidak memiliki kepentingan untuk melariskan produk-produk Astra. Namun, dirinya tetap memiliki kepentingan dalam menjamin kepercayaan pelanggannya. PT Astra mendambakan kepercayaan dan kecintaan masyarakat terhadap produknya, dan berkat orang-orang seperti Haji Sis, produk Astra pun akhirnya kian dicintai dan dipercaya oleh masyarakat.

Di akhir perjalanan, singgahlah di bengkel yang terletak di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Pemiliknya adalah Pramono (60), ia berjuang sudah lama, hampir 12 tahun. Bengkelnya terbilang sederhana, hanya menempati kios berukuran 2,5x3 meter. Kendati tak sebesar dua bengkel sebelumnya, Pramono tetap setia menunggui bengkelnya dan menanti hadirnya orang-orang yang mempercayakan jasanya.

Bengkel Pramono (Dok. Pribadi)
Pramono mungkin tak seberuntung pemilik bengkel lainnya. Sebenarnya, awal mula berdirinya bengkel itu hanya melayani tamban ban. Namun atas dorongan beberapa kawannya, akhirnya Pramono melayani perbaikan yang sifatnya praktis, seperti ganti oli atau servis ringan. Dari segi sparepart, ia tidak punya banyak stok. Jika mengharuskan pelanggan mengganti spare part, Pramono mengakalinya dengan jalan membeli ke bengkel yang lebih besar. Demikian Pramono menjalani bisnisnya yang bermodal pas-pasan.

Kendati begitu, Pramono tetap punya pelanggan setia. Itulah mengapa bengkel kecilnya masih bertahan hingga 12 tahun. Bagi Pramono, kesulitan mendapatkan modal tidak menjadikan ia tidak mencintai pekerjaannya. Menurut dia, kunci kelanggengan bengkelnya adalah karena faktor harga dan pelayanan. “Kalau bengkel-bengkel besar biasanya punya tarif, kalau saya yang penting bisa untuk menyambung silaturahmi”. Ungkap dirinya untuk menegaskan bahwa ia tak mampu berharap imbalan lebih mengingat keadaan bengkelnya terbilang sederhana.

Sosok Pramono (Dok. Pribadi)
“Kalau orang yang servis ke sini biasanya mereka yang nggak punya uang banyak, kalau punya uang banyak pasti akan servis ke bengkel besar. Saya juga maklum karena kemampuan saya ini kan pas-pasan, nggak pernah makan bangku sekolah. Kalau yang muda-muda biasanya lulusan STM, malah ada yang lulusan kuliah juga ikutan buka bengkel. Mereka nyervis motor pakai komputer segala, kalau saya boro-boro kenal komputer”. Ungkap Pramono dalam menyikapi dunia perbengkelan di sekitar wilayahnya yang sudah dikelola oleh tenaga profesional dan bermodalkan perangkat canggih.

Seperti kisah Han dan Haji Sis, secara umum sepeda motor yang diservis Pramono kebanyakan Honda. “Ya Honda kan memang banyak yang pakai. Orang-orang juga sudah paham mutunya”. Ungkap Pramono. Kali ini, ia punya kisah yang menarik untuk disimak. “Pelanggan saya tidak semuanya bayar kontan. Banyak pula yang hutang. Contohnya kemarin sore, ada ibu-ibu datang pakai Supra dengan anaknya yang masih sekolah, ia bilang motornya rusak. Kalau anaknya disuruh kemari tapi belum bayar dulu, pastinya kan tidak mau. Makanya, ia datang dengan ibunya. Kalau sudah begitu ya saya harus rela, memang pelanggan saya kan mereka-mereka itu”.

Sebenarnya pemilik bengkel yang bermodal pas-pasan seperti Pramono jumlahnya banyak. Biasanya mereka membuka bengkel di pelosok-pelosok desa. Utamanya melayani tambal ban, namun ditambah pula dengan layanan servis ringan seperti halnya yang dilakukan Pramono.  Mereka tumbuh dan berkembang mewarnai dunia otomotif nasional dengan skill dan modal seadanya. Selain bermaksud mencari penghasilan, keberadaan mereka juga sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Ongkos yang ekonomis adalah faktor utama yang membuat mereka dicari oleh masyarakat kecil.

Berkaca dari kisah-kisah di atas, tidak berlebihan rasanya jika hakikat dari makna “Inspirasi 60 Tahun Astra” yang sejati, adalah keberadaannya yang begitu menyentuh ranah paling bawah kehidupan masyarakat. Memandang eksistensi Astra dari segi kekuatan dan kepedulian korporasi, tentu tidak diragukan lagi. Tapi di lini bawah, di desa-desa terpencil, ada sederet kisah menarik yang tak boleh begitu saja dilupakan. Bengkel-bengkel kecil adalah salah satu dari sekian banyak cerita yang turut mewarnai perjuangan Astra bersama bangsa. Melalui figur-figur bersahaja seperti Han, Haji Sis dan Pramono, bisnis amanah yang dikelola Astra kian melejit dari tahun ke tahun.


Inspirasi masyarakat bawah (Dok. Pribadi)
Dalam sejarah kehidupan masyarakat pedesaan yang sederhana, setiap hari orang-orang mempercayakan produk Astra bukan hanya untuk transportasi belaka, melainkan juga untuk melengkapi hidup. Berkawan setia seperda motor Honda, setiap hari orang desa pergi ke sawah untuk bekerja, ke pasar mengangkut barang dagangan, atau ke bukit-bukit mencari rumput hijau untuk ternaknya. Kisah itu terus berlalu dari hari ke hari, hingga tahun demi tahun.


Saatnya kini Astra memasuki usia yang ke-60. Atas nama anak bangsa, sudah sepantasnyalah kita memberikan apresiasi yang tinggi terhadap PT Astra yang telah berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Astra juga telah nyata berperan aktif dalam menghasilkan produk dan layanan karya anak bangsa dengan memberikan nilai tambah bagi masyarakat luas. Sejatinya, bukti cinta Astra kepada bangsa ternyata tidak sebatas antara produsen dan konsumen. Namun meniti jejak-jejak yang bersejarah selama hampir 60 tahun,  Astra adalah inspirasi penuh cinta yang sangat membanggakan.







Postingan terkait:

14 Tanggapan untuk "Inspirasi Honda yang Membanggakan Bangsa"

  1. Ketimbang yang pertama, tulisan ini jauh lebih menggoda Mas. :)

    BalasHapus
  2. Padahal gaya penulisan ini nyontek gaya saya ya? Hayoooo!

    Selamat Mas Yoyo. Kapan-kapan mainlah ke Cirebon. :)

    BalasHapus
  3. Betul. Aku sangat2 terinspirasi sampeyan, asli... Makasih mas Khoirul, makasih sekali....

    BalasHapus
  4. keren bingit ah ceritanya. Kepikiran aja dirimu jajal dari bengkel ke bengkel.

    Congrats :))

    BalasHapus
  5. Si Kumbang kini sudah ada gantinya ya mas....Selamat ya mas....

    BalasHapus
  6. Wah blogger Banyumas to, saya KEBUMEN Mas, salam kenal. Selamat ya dapat juara 2

    BalasHapus
  7. Namanya juga Mastah, kalau nulis hadiahnya langsung motor....Congrat deh mas....

    BalasHapus
  8. Sukaa bangeet tulisannya mas. Mengalir dan enak dibacaa. . Makasiih banyaak sharingnyaa mas, 😁😁 motor sayaa juga hondaa mas, irit dan gesittt. Emang hondaa andalaan bangeet mas yaa. Hehehe salam kenaaal. 😁😁

    BalasHapus
  9. Ini sebenarnya pas banget buat APA 2017 Mas.. hehee...

    BalasHapus
  10. Kisah yang menarik mas. Saya juga masih senang dengan Honda grand astrea :)

    BalasHapus
  11. kok bisa kepikiran ya heheh, udah luas banget pemikiranya selamat mas

    BalasHapus