Mengenal Tanda Baca dalam Menulis

Tutorial 4 :

Mengenal Tanda Baca Koma dan Titik



Jujur dari judulnya saya agak malas membaca, “Mengenal Tanda Baca”. Duh, rasanya berat banget. Tapi nggak apalah, saya kan udah sepakat mau bahas, jadi ya saya bahas aja.


Ya udah tinggal bahas, ngapain lu ribet?

Sori nih, bukan apa-apa, saya ini punya nama! Tolong jangan asal panggil lu-lu. Tolong agak sopan sedikit bisa dong?


Ups, sori... Enaknya panggil apa nih, mas, pak, bang atau?

Panggil om aja gpp.


Okeh, lanjut om, jangan baper..

Langsung nih. Sejak SD, hingga bisa nukang internet seperti sekarang ini, saya punya keyakinan kalau temen-temen udah pada ngerti tentang tanda baca. 

Bisa jadi nggak hafal semuanya, tapi kalau “titik” dan “koma” kayaknya udah pada paham.

Kalau saya menulis biasanya nggak pakai banyak tanda baca, kecuali  titik dan koma. Tanda tanya dan tanda seru juga kadang-kadang saya pakai, tapi lebih sering titik-koma.

Sampai detik ini, bahkan saya nggak faham teori tentang tanda baca, bahkan untuk sekedar titik atau koma. Tapi saya yakin, tidak pernah ada masalah yang serius. 

Karena nggak ngerti teori, makanya saya pakai teori sendiri, begini :

Tanda titik  (.) saya gunakan untuk mengakhiri kalimat. Biasanya saya lebih menekankan penggunaan titik dengan menggunakan kalimat-kalimat yang tidak terlalu panjang. Itu saya biasanya begitu.


Masih susah dimengerti nih, om...

“Kalau saya menulis biasanya nggak pakai banyak tanda baca  kecuali titik, koma dan tanda tanya, dan tanda seru juga kadang-kadang saya pakai tapi lebih sering titik-koma. Bahkan sampai detik ini saya nggak faham tentang teori tentang tanda baca bahkan untuk sekedar titik atau koma. Tapi saya meyakini sejauh ini tidak pernah ada masalah dan saya menulis santai aja si buktinya udah sampai segini”


Lho, kok sama kayak yang di atas itu om?

Emang sengaja saya bikin sama, cuma diedit sedikit si. Tujuannya, agar kita bisa bedain antara kalimat-kalimat barusan dengan kalimat sebelumnya.

Begitulah saya menggunakan tanda baca titik.  Titik biasanya saya gunakan untuk mengakhiri kalimat sekaligus membantu pembaca dalam memaknai kalimat. Atau bahwa kalimat itu sudah selesai.

Harapannya, dengan penggunaan titik yang tepat, pembaca akan dapat menikmati suatu tulisan tanpa berfikir terlalu ekstra.  Kira-kira begitu, itu kalau saya!

Saya sangat menyarankan, sebelum menggunakan tanda titik, kalau bisa kalimatnya jangan terlalu panjang-panjang lah. Itu efeknya si pembaca jadi musti berfikir lebih ekstra.

Mood orang itu kan nggak selalu sama, jadi pemahamannya terhadap suatu kalimat juga bervariasi. Ada yang sekali baca langsung kena, ada pula yang harus dicermati beberapa kali.

Dengan menggunakan tanda titik yang proporsional, diharapkan benar-benar membantu pembaca merenyahkan makna suatu tulisan. Atau agar mudah dicerna.

Ibarat menyajikan buah-buahan, udah kita potong kecil-kecil dan tidak ngepress di lubang mulut. Yang makan jadinya bisa rileks dan nggak males megangnya. 

Apalagi kalau yang makan agak jaim-jaim gitu, biasanya kan dimanis-manisin cara makannya. Ngerti kan maksud saya?



Ya, lah! Kalau koma om?

Kalau koma agak beda kayaknya, tapi bagi saya tetap ada unsur kesamaannya.

Bedanya, kalau koma untuk menjeda dalam satu kalimat (sebelum datangnya titik).  Sedang kesamaaanya, masih punya fungsi buat meringankan kalimat. Lagi-lagi, itu menurut saya...


Kok dari tadi ngomongnya gitu om, menurut saya terus...

Jujur saja saya takut ada profesional yang ngira saya ini ngeblangsakin pembaca, terutama yang baru latihan menulis.

Saya ini kan nggak lagi ngajarin, cuma lagi sharing pengalaman aja. Takutnya ada yang bilang, wah ini orang kok teknik menulisnya kacau gini..


Oke-oke, lanjut dah...

Yup.


Udah lanjutin,  malah ngomong yup!

Tanda koma menurut saya unik, persis kamu! Ketika ada kalimat, “Ibu pergi ke pasar membeli jeruk, bayam, bawang merah, es campur dan beberapa potong celana dalam ayah”,  itu adalah  kesan pertama saya mengenal fungsi koma.

Seiring waktu berlalu, aku pun melupakan itu. Aku melupakan kenangan itu, kendati tak menguburnya dalam-dalam.

Pada akhirnya, saya jarang menggunakan tanda koma untuk fungsi itu.
Pada akhirnya, saya jarang menggunakan tanda koma untuk fungsi itu.

Saya sebenarnya bisa saja menulis, “Pada akhirnya (tanpa koma) saya jarang menggunakan tanda koma untuk fungsi itu. Namun setelah kata “akhirnya” sengaja saya sisipkan koma. Tujuannya, untuk memanjakan pembaca dalam membatin tulisan. Agar enak dibaca!

Pegimane, agak mendingan?


Iya om, biarpun agak acak-acakan, tapi agak mendingan lah..


(1)
“Seiring waktu berlalu, aku pun melupakan itu. Aku melupakan kenangan itu, kendati tak menguburnya dalam-dalam”

Kalimat itu juga pakai koma kan? Walaupun bisa aja ditulis begini :

(2)
“Seiring waktu berlalu aku pun melupakan itu, aku melupakan kenangan itu kendati tak menguburnya dalam-dalam”.

Kalau saya si enakan pakai yang pertama. Bukan cuma berharap bisa dibaca dengan enteng, tapi saya menulisnya juga enteng.

Menulis juga sambil membatin kan, apa yang ada di otak kan dibatin dulu, sebelum akhirnya dituangkan melalui ketikan-ketikan.

“Kalau saya menulis langsung tabrak-tabrak gitu aja sayanya juga krasa banget sesak nafas makanya saya gunakan koma buat meringankan diri sendiri pada waktu mengembangkan ide menulis dan harapannya orang lain juga merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan ketika saya menulis”

Kalau saya menulis langsung tabrak-tabrak gitu aja,  sayanya juga krasa banget sesak nafas.  Makanya, saya gunakan koma buat meringankan diri sendiri. Harapannya,  orang lain juga merasakan hal yang sama seperti saya.


Ya dah, paham-paham... Hehe..

Tanda seru (!) umumnya digunakan di akhir kalimat perintah, peringatan atau sejenis itu :

Dik, ambilkan kue itu untuk kakak!
Jagalah kebersihan!
Awas, tegangan tinggi!
Jangan buang mantan, eh sampah, sembarangan!

Itu kan yang udah temen-temen pelajari sejak SD?

Jika memang tulisan kita ada unsur kalimat seperti itu, ya silahkan gunakan tanda seru secukupnya. Itu adalah teori dan ilmu pengetahuan, jadi gunakan dengan bijak.

Namun selain itu, tanda seru sering saya gunakan bukan hanya untuk keperluan kalimat seperti itu saja. 

Dalam kegiatan menulis sehari-hari, bahkan sering saya gunakan untuk membuat kalimat yang mengandung unsur PENEKANAN. Misalnya begini :

“Aku sudah terlanjur berhap, tapi nyatanya harapan itu sia-sia. Apa yang telah aku korbankan, nyaris tak bermakna apapun!”

Kalimat “...tak bermakna apapun!” sebenarnya bukan kalimat yang memiliki unsur nyuruh atau perintah. Namun dengan menggunakan tanda seru di belakangnya, seolah memberi PENEKANAN tertentu.

Si penulis seolah ingin memberikan semacam “penegasan” untuk sesuatu hal yang disampaikan kepada pembaca. Bentuknya semacam gejolak, lupan emosi atau sejenis itu.

“Dengan menggunakan kamera belakang 13 Megapixels, smartphone KLUMA  mampu menghadirkan jepretan memukau. Hasil gambarnya detail, warna yang dihasilkan amat menakjubkan!”

Itu adalah contoh lain penggunaan tanda seru . Setelah kalimat “menakjubkan” sengaja saya kasih tanda seru agar memberikan penekanan. Seperti rasa bangga, takjub, terperangah atau sejenisnya.

Selain tanda titik dan koma, masih banyak tanda baca lainnya seperti tanda petik, dalam karung, kurung, dan masih banyak lagi. 

Namun demikian, titik koma selalu saya tekankan untuk benar-benar dipahami karena fungsinya menyangkut rasa suatu tulisan. Kurang lebihnya begitu...




Daftar Isi       Awal       <<Sebelumnya       Selanjutnya>>









Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Mengenal Tanda Baca dalam Menulis"

Posting Komentar