Menilik Tanon, Menggapai Inspirasi Pulang


Haryanto tiba-tiba ingin pulang, hasratnya meletup tak terbendung. Ia ingin menghidupkan kembali ronggeng, gubrag, atau sintren di tanah kelahirannya. Itu telah lama hilang, bahkan sejak beberapa dasawarsa terakhir.  Tapi ia bilang bisa, dan pasti bisa.

Pikirnya, ia akan mencari tetua, mengais kembali jarum lawas dalam tumpukan jerami zaman. Entahlah. Sebut saja ketika ia mencari keberadaan lesung gubrag, mereka yang dianggap tua dan tahu, malah berkata tak tahu. Lumrah jika ia setengah gusar.

Demikian pula calung dan gamelan. Peranti paling menghipnotis kala itu, kini tinggal tulang belulang. Mereka bilang rusak berat, berkarat, dimakan rayap, tak terurus. Kakek Yas adalah jompo yang rela menyimpan sampah bermutiara itu, hingga kini. Tak ada biaya untuk perbaikan, pula tak ada yang sudi menyentuh.

“Dulu, ketika bulan purnama tiba, perempuan-perempuan desa menabuh lesung. Anak-anak kecil bermain gotri ala gotri, gedrug, atau lithong. Tapi sayang, semua telah hilang. Kalau saja masih, gua bisa bikin kayak yang di sana”. Ucap pria berusia 34 tahun yang telah 17 tahun merantau di ibu kota, dan kini berhasrat pulang. Ia bergaya bahasa Jakarta, dengan logat Jawa masih kentara.

Wajah gelapnya meredup, mengingat-ingat kembali kejayaan ronggeng di kampungnya. Kesenian lokal dengan iringan calung berpadu rentak gamelan, adalah sajian rakyat paling berselera di masanya. Ketika pentas, nyaris semua warga keluar rumah. Wajar jika sering ada tamu tak diundang. Sebelas dua belas ekor unggas bisa lenyap dalam sekejap malam.

“Ronggeng  dulu begitu digemari, tapi sekarang udah langka. Malah gua bener-bener sedih waktu liat rombongan ronggeng ngamen di Jakarta. Gua pikir, mereka udah nggak punya tempat di kampungnya sendiri”. Ucapnya menunduk pilu, tangannya meraih gagang cangkir untuk menyeruput kopi panas yang keburu dingin. Kendati berperawakan metal, bisa juga ia segundah itu.

Kegundahan Haryanto, perantau yang masih jua memedulikan kampungnya, bukanlah tanpa alasan. Sepekan sebelumnya, Har, demikian ia disapa, barusan melancong ke Kampung Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Ramainya perbincangan tentang desa wisata oleh pejabat setempat, kerap menyebut Tanon sebagai pembanding yang ampuh. Itu  yang membuat dirinya dan beberapa kawan penasaran dan segera menilik Tanon.


Infografis Kampung Berseri Astra Tanon
(Sumber informasi : astra.co.id Sumber Foto : gangsarmedia.com)

Ditempuh pukul 22.30 WIB dari kampungnya, Banyumas, Jawa Tengah, usai subuh telah sampai Tanon. Perjalanan lancar, tak ada aral merintang. Namun, kurang lebih 35 menit menjelang subuh, mata Har meski terbelalak awas. Trip area pegunungan yang naik turun dan berkelok, membuat goyangan Xenia yang dikendalinya berasa meliuk-liuk sedap.

Nang, kawan yang turut serta, sempat memergoki Har dengan gaya kemudi yang terlampau pelan. Ia melempar Har dengan guyonan sedikit menggigit, “Saya paham, situ sopir taksi online, tapi tolong bedakan gayanya! ”. Har yang dua tahun belakangan menggeluti pofesi itu di daerah rawan macet, tertawa ngakak dan menangkis balik, “Haha, beda, dong. Yang itu dangdut klasik, kalau yang ini koplo tapi klasik....” ujarnya geli.

Laksana kelambu bidadari, kabut putih menyekat pandangan di kampung Tanon pagi itu. Tak keliru, pilihan berangkat malam adalah untuk pagi yang secantik ini. Gunung Telomoyo terlukis tegas, membiru,  memikat anggun. Dibumbui sautan kicau burung, pagi di sini terpaut jauh dengan pagi di negeri rawan polutan.

Pagi yang Sejuk di Kampung Tanon

Dingin sudah barang tentu. Har yang terbiasa menikmati hawa panas dan bau got di permukiman padat, kini bermain-main dengan kadar oksigen tingkat tinggi. Ia menghirup napas dalam-dalam,  lalu menghembus perlahan.  Begitu, hingga mulutnya mengeluarkan uap dingin selayak kepulan asap. “Yang kayak gini nih, jarang-jarang ada di Jakarta!”, ujarnya sambil sesekali menyibak rambutnya yang kelewat gondrong.

Pukul enam semua telah siap. Gapura berbahan rumput kering dan berpola gunungan wayang di koridor pertama, mengucap selamat datang dengan bahasan nyentrik. Memasuki gerbang utama, terpampang gapura permanen bertuliskan “Kampung Berseri Astra”. Sejauh mata memandang, ornamen unik berbahan bambu dan rumput kering masih menghiasi bahu-bahu jalan.


Gapura Gunungan Wayang di Koridor Pertama Kampung Tanon


Gapura Permanen, Gerbang Utama Menuju Kampung Tanon

Adalah kakek tua dengan leher berbalut kain tebal yang kali pertama melempar senyum hangat. Ia melambaikan tangan, tak ada kalimat terucap. Ketika Har berusaha mendekat dan hendak mengobrol, Mariah, salah satu anggota keluarganya, mengatakan bahwa kondisnya telah repot. Tak apa, toh Mariah mungkin paham tentang kampungnya, ujarnya.

“Orang-orang di sini sudah tahu kalau ada tamu harus ramah. Kakek juga tahu, tapi maaf mungkin sudah repot kalau diajak ngobrol”, ucap perempuan berusia 33 tahun itu dengan nada sopan lagi lembut. Bagi Har, kendati tak sehat, cakap pula sang kakek berlaku ramah.

Kakek Mariah

Seperti hendak mengungkap luka lama, Mariah sempat menuturkan kondisi kampungnya dulu yang tak sebaik sekarang. Ada sederet kisah kelam yang turut mewarnai, termasuk anggapan orang-orang luar yang memandang sebelah mata. Ia paham benar, dulu Tanon tak ubahnya kampung tertinggal dengan penghuni orang-orang miskin dan berlatar pendidikan rendah. Makanya, pantas jika ada  yang menilai seperti itu.

“Dulunya ini kampung tertinggal, mas. Pokoknya miskin, kumuh dan jorok. Kami sering dianggap remeh dan dipandang sebelah mata oleh orang luar. Tapi tak apa-apa, kami bersyukur karena ada yang peduli, dan sekarang kan sudah maju”. Mariah berucap syukur dengan rona kebahagiaan yang jelas terpancar. Har mengangguk atas penuturannya.

Mariah juga sempat menyebut, bagi orang-orang Tanon, ada dua nama yang dianggap istimewa dan paling berjasa bagi kemajuan kampungnya. Pertama adalah Kang Trisno, satu lagi perusahaan dari Jakarta bernama PT Astra. Menurutnya, jika tak ada Kang Trisno dan tak dibina PT Astra, mungkin keadaannya tak sebaik sekarang ini.

“Setahu orang sini, bisa seperti ini, awal mulanya karena perjuangan Kang Trisno. Setelah itu, ada perusahaan Astra dari Jakarta yang juga sangat mendukung”, ucapnya mantap. Mendengar itu, Nang yang bukan fotografer sungguhan namun sedari tadi sibuk memotret, menyenggol bahu Har. Ia berbisik pelan, “Jadi meski ada yang menggagas gitu. Itu juga kalau situ mau kan? Kalau enggak, ya nggak papa..” Har tersenyum tipis, lalu berucap santun untuk undur dari kediaman Mariah.

Sosok Mariah

Tergerak rasa penasaran tentang apa yang dituturkan Mariah, Har kian tak sabar. Ia beranjak memasuki titik utama aktivitas wisata di kampung Tanon. Dari sana, ia akan menemukan apa yang selama ini hanya tersiar di televisi maupun media daring. Ia berharap, akan ada selaksa kisah penuh makna bagi rencana kepulangannya kelak.

Di sebuah gazebo berbahan kayu dengan rancang gaya tradisional, Har mendapati lukisan khas pedesaan yang sejuk tenang. Ada perpaduan yang harmonis antara alam, penataan ruang-ruang, kebersihan lingkungan, dan aktivitas orang-orang desa yang sederhana. Menurut Har, itu merupakan sisi eksotis dari wajah kampung ini.

Gazebo yang Nyaman untuk Bersantai

Diantara lambaian tangan dan anggukan senyum orang-orang Tanon, Har memandangi latar pepohonan yang menghampar rimbun di atas sana. Sementara, di sisi kanan gazebo, aneka ragam tanaman obat tertata rapih dan berseni. Dari sudut itu pula, ia dapat menyaksikan aula pementasan berbahan bambu lengkap dengan ornamen-ornamen yang terkemas apik.


Taman Tanaman Obat



Aula Pementasan Tari

Rumah-rumah model lawas, pun dibiarkan apa adanya, tanpa tersentuh gaya baru. Mbah Citro, kakek berusia 99 tahun yang sejak tadi duduk di beranda, tak mau kalah untuk turut menebar senyum termanis. Ia tak bergigi utuh, demikian suaranya yang tak terdengar lantang. Namun, ia tetap ramah dalam menjawab pertanyaan tamu yang datang.

“Yang ini namanya lesung, dulu untuk menumbuk padi, sekarang sering ditabuh kalau ada tamu”. Ucapnya sambil menepuk-nepuk benda unik yang tengah diduduki. Guna menyambut tamu dari kota pukul sembilan nanti, ia telah rapih dengan atasan kemeja putih, berkain sarung dan mengenakan penutup kepala "iket". Ekspresinya yang lugu, bermaksud menjelaskan sebuah benda bersejarah bernama lesung.

Sosok Mbah Citro yang Sederhana

Har tak begitu asing dengan benda itu. Bagi orang Jawa, lesung adalah kayu berbentuk seperti perahu dengan cekungan di dalamnya. Dulu kala, itu berfungsi menumbuk padi, memisahkan beras dari kulit gabah. Ketika perempuan-perempuan tengah menumbuk dengan tongkat kayu, atau yang disebut "alu", terciptalah alunan musik ritmis yang menghentak dan terdengar unik.

Setelah lesung tergantikan peranti modern, aktivitas menumbuk padi dengan cara itu sudah tak ada lagi. Namun, telah berganti menjadi kegiatan bermusik tanpa gabah. Di kampung Tanon, Mbah Citro menyebut “lesung jumengglung”. Sedangkan di kampung Har, wilayah Banyumas, orang-orang memberi nama “gubrag”.

Bagi Har, lesung hanyalah wadah cekung biasa, tak terlalu istimewa. Lantaran langka dan punya nilai historis, itu yang membuatnya tampil membahana. Di sini, aktivitas lesung jumengglung disegarkan kembali, dirawat, dikenalkan pada generasi muda, dan dipamerkan pada wisatawan sebagai nilai jual tinggi. Beda dengan kampung Har yang bahkan hilang termakan zaman.

“Nah, ini yang bikin gua salut, yang jadul-jadul kayak gini justru keren banget! Nyesel juga ya kenapa di tempat gua kok hilang?”, ucapnya bermakna sesal.  Ia kian merasa kehilangan dengan identitas kampungnya yang telah ada bahkan sejak zaman nenek moyang. Ia pikir, dengan tetap menjaga budaya semacam itu, akan lebih banyak hal yang tereksplorasi, selain keindahan alam yang memang telah Tuhan anugerahkan.

Usai menutup obrolan renyah dengan Mbah Citro, Har tertarik untuk menyaksikan los-los kecil di sudut kampung itu. Wakidin, pria paruh baya yang sejak tadi sibuk memajang aneka sayuran di salah satu los, mengaku kegiatan berjualan semacam itu dilakukan ketika ada rombongan wisatawan. Dari sana, ia mendapati gurihnya rejeki hasil berjualan sayur-mayur.

Sosok Wakidin

“Ya, ini berkah. Setelah ada seperti ini, saya jadi ada rejeki tambahan”,  ujar pria berusia 65 tahun yang tampak bersahaja.  Ia tengah mengungkap, sejak kampungnya menjadi desa wisata budaya dan kemudian dibina PT Astra dari Jakarta, banyak wisatawan  ramai berkunjung. Disitulah ia mendapatkan rejeki dari hasil berjualan sayuran. Terung, wortel, talas, ketela, cabai dan aneka sayuran segar lainnya, merupakan produk istimewa kampung Tanon yang berhawa dingin dan bertanah subur.

Matahari telah hangat, rombongan yang sejak pagi ditunggu-tunggu, kini memasuki Tanon. Kang Trisno, figur penggerak kampung Tanon, telah bersiap mengkomando warga lainnya melakukan ritual penyambutan. Sementara, gadis-gadis manis Tanon berdiri di bahu jalan. Mereka menyematkan kalung bunga puspa, perlambang persahabatan dan cinta kasih kepada tiap-tiap tamu.

Rombongan kemudian dipandu menuju salah satu gazebo untuk mencicipi welcome drink bernama wedang secang. Beruntung, setelahnya tamu-tamu beristirahat barang sejenak. Kini, Har mendapat kesempatan emas beramah-tamah dengan Kang Trisno. Disitulah ia menemukan makna filosofis dibalik wedang secang.

“Secang berarti cancang, atau dalam bahasa Indonesia bermakna ikat. Itu menunjukkan bahwa cita-cita yang tinggi tidak boleh dibiarkan tumbuh liar, namun harus dicancang atau diikat. Setelah itu,  haruslah segera diwujudkan”. Ucap pria murah senyum kelahiran 12 Oktober 1981, yang juga mengaku pernah mendapatkan penghargaan Satu Indonesia Award tahun 2015 dari perusahaan otomotif bernama PT Astra International asal Jakarta.

Kang Trisno, Figur Penggerak yang Murah Senyum

Bagi warga, sosok Kang Trisno laksana lilin yang menyala dalam gelapnya masa silam kampung Tanon. Ia adalah orang pertama yang berhasil menempuh pendidikan tinggi. Usai lulus sarjana, kompetensi yang dimiliki tak kemudian digunakan untuk mencari penghidupan di kota layaknya Har.  Ia justru menetap di desa dan berupaya memajukan kampungnya.

Rukidi, 48 tahun, sempat menceritakan awal mulanya Kang Trisno membuka mata hati orang-orang Tanon. Menurutnya, ia bukan berasal dari keluarga yang mampu, bahkan kehidupannya terbilang sederhana. Tapi tekadnya untuk menempuh pendidikan tinggi, sangatlah kuat. Kang Trisno akhirnya tumbuh menjadi sarjana pertama yang tetap peduli dengan kampungnya.

“Trisno itu ya sama seperti kami, anak orang biasa-biasa saja. Tapi dia itu sabar dan tekadnya kuat. Mungkin karena dia prihatin melihat kami-kami, makanya setelah lulus dia tidak lupa  asal-usulnya”. Ucap pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu dengan ekspresi yang nyaris tanpa senyum. Ia telah berkali-kali memersilahkan untuk menikmati aneka penganan khas Tanon yang tertata rapih di sebuah bangku.

Sosok Rukidi

Rukidi  tak menyangka, anak desa seperti Kang Trisno adalah pembawa berkah bagi kehidupan warga Tanon. Ketika mendengar kabar bahwa dirinya mendapat penghargaan dari PT Astra, Rukidi semakin yakin bahwa itu memang pantas untuk Kang Trisno. “Itu pantas untuk Trisno. Jadi ada yang peduli, dan ia bisa lebih semangat berjuang”, ujarnya sambil kembali menawarkan kacang rebus yang terkesan berukuran lebih besar dibanding kacang tanah umumnya.

Konon, dari beberapa media kepunyaan Astra, program Satu Indonesia Award diluncurkan untuk menganugerahi dan menyemangati generasi muda seperti Kang Trisno. Mereka yang mendapat penghargaan, adalah yang telah memberi kontribusi positif, baik berupa kegiatan atau tindakan nyata yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Tujuannya, agar warga dapat mencapai kehidupan yang lebih baik.

Kebahagiaan Rukidi, yang juga merupakan kebahagiaan warga kampung Tanon, adalah selain Kang Trisno didaulat menjadi penerima anugerah Satu Indonesia Award, kampungnya kemudian diganjar berkah menjadi Kampung Berseri Astra tahun 2016. Menurutnya, itu adalah puncak perjuangan Kang Trisno yang juga merupakan harapan cerah bagi masa depan warga Tanon.

“Beruntung sekali. Perjuangan Trisno jadi tidak sia-sia, ada yang peduli dan jadi bisa terus lanjut. Apalagi di sini kan sebagian peternak, makanya tamu-tamu bisa memerah susu, membuat sabun susu atau masak-masak. Kalau yang di atas itu ada permainan meluncur dan macam-macam lagi. Nanti juga ada tari-tariannya”.  Lanjut Rukidi mengungkapkan kebahagiaanya sembari menjelaskan apa-apa yang menjadi kegiatan para wisatawan di kampungnya.

Har juga turut menyaksikan sendiri apa yang dikatakan Rukidi. Setelah upacara penyambutan, wisatawan kemudian dimanjakan dengan aneka kegiatan khas kampung Berseri Astra di Dusun Tanon. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok, lalu dipandu untuk mengikuti aktivitas mengasyikkan dengan nuansa pedesaan yang amat kental.

Selain bertani, rupanya sebagian warga Tanon juga beternak sapi perah. Wisatawan diberi kesempatan memerah susu segar langsung dari induknya. Hasil perahan lalu diolah menjadi aneka produk, seperti sabun susu, permen susu hingga yoghurt. Bagi Har, kegiatan-kegiatan macam itu dilakukan oleh wisatawan sebagai pengalaman berwisata yang penuh kesan.

Har sempat menyaksikan beragam ekspresi wisatawan. Mulai dari yang tampak geli ketika memerah susu, hingga wajah-wajah serius ketika pemandu memeragakan bagaimana tahap pembuatan sabun susu tanpa mesin canggih apapun. Bahkan, suasana keakraban tergambar ketika wisatawan melakukan cooking class. Satu persatu berebut untuk memasak permen berbahan dasar susu segar.

Salah Satu Wisatawan Sedang Memerah Susu


Cooking Class, Membuat Aneka Olahan Berbahan Dasar Susu Segar

Outbound Ndeso, juga tak kalah menggairahkan. Di sudut atas kampung itu, dengan alam terbuka dan view menawan, wisatawan berkesempatan melatih keberanian, kerja sama, dan jiwa kepemimpinan dalam sebuah tim. Dengan adrenalin yang meski terpacu, satu per satu menjajal sedapnya melintasi halang rintang khas Kampung Berseri Astra. Semua ceria, bagai tak kenal duka.
Outbound Ndeso dengan View Menawan

Usai Rukidi berpamitan untuk turut memersiapkan pagelaran Tari Topeng Ayu, petualangan Har dilanjutkan ngopi-ngopi. Har kini menyandarkan bahunya sembari menunggu pagelaran tari yang ia sudah tunggu-tunggu. Ia penasaran, karena sebelumnya, Rukidi sempat menuturkan bahwa sejak zaman nenek moyang, orang Tanon memang sudah gemar menari. Itu pula yang akhirnya membuat Kang Trisno menggagas brand “Desa Menari” sebagai tagline di kampung Tanon. 

Sebelumnya, Kang Trisno juga sempat menerangkan, berkah dibina PT Astra dan dijadikan Kampung Berseri, kampungnya mendapatkan dana bantuan berkelanjutan sebesar Rp 280.000.000. Dana tersebut digunakan untuk kegiatan pengembangan pada empat bidang sesuai dengan program corporate social responsibility (CSR) Astra, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan. 

Di bidang lingkungan, Kang Trisno bersama warga melakukan penataan zona outbound, pembuatan tanaman obat, pembuatan gazebo, gapura dan pengangkatan air bersih. Di bidang pendidikan, dilaksanakan kegiatan pelatihan karawitan, pendidikan kecakapan hidup, pelatihan bahasa bagi pemandu wisata, serta memberikan beasiswa kepada 36 anak-anak kampung Tanon.

Sementara, di bidang kewirausahaan Kang Trisno merancang pelatihan olahan produk sayuran, packing produk dan bantuan bibit strawbery. Khusus bidang kesehatan, dilakukan program posbindu tiap bulan, jalan sehat, pemberian perlengkapan senam ibu hamil dan pengobatan gratis screening diabetes.

Dengan wajah optimis, Kang Trisno meyakinkan bahwa apa yang ia dapatkan sebenarnya bisa dilakukan di desa manapun jika mau. Sebelumnya, ia tak begitu yakin bahwa apa yang ia canangkan akan disambut warga. Namun, ketika melihat hasilnya, warga kemudian beramai-ramai untuk berpartisipasi. Beruntung perjuangannya disambut PT Astra, kini kampungnya menjadi semakin bersinergi dan kehidupan warga semakin sejahtera.

"Pada dasarnya semua desa memiliki potensi. Jangan beranggapan bahwa untuk maju harus dengan biaya mahal. Jika harus membangun infrastruktur pastinya mahal, namun jika seperti kami, yang dijual adalah aktivitas warga, semua desa bisa melakukan. Gali apa yang ada, potensi yang ada, lalu kembangkan. Ibarat rumah, desa itu pasti punya pintu-pintu, kita harus paham lewat pintu mana suatu desa dapat berkembang". Ucap Kang Trisno berusaha memotivasi ketika diajukan pertanyaan tentang bagaimana mengikuti jejeknya memajukan  desa.

Terkesan dengan penuturan kang Trisno, setelah santai Har masih saja nyerocos. “Menurut gua, kalau program bersih-bersih kampung si bisa dilakuin siapa aja. Tapi kalau konsepnya kayak gini, ekonomi masyarakat udah pasti ningkat. Gua akuin, gua salut ama Kang Trisno, dia sarjana sosiologi yang cerdas. Kalau Astra, ya emang perusahaan gede. Tapi nggak jaminan juga si semua perusahaan gede sempet mikirin yang kayak ginian”. Sembari menikmati kopi hitam berpadu jagung rebus, Har berkomentar usai menjelajah internet dan melihat-lihat profil Kang Trisno.

Tak hanya profil Kang Trisno yang ditemukan, Har juga mendapati nama perusahaan yang sebelumnya didengung-dengungkan warga Tanon. Berbagai media menyebut, PT Astra International memang senantiasa mendedikasikan karyanya untuk kemajuan bangsa. Sepanjang perjalanannya sejak tahun 1957 hingga sekarang, Astra tak henti-hentinya menginspirasi negeri. Itu dilakukan di seluruh penjuru tanah air, dan Tanon adalah salah satunya.

Satu tongkol jagung rebus rupanya belum juga memuaskan Har. Sahabat fotografer amatirnya, Nang, mengira itu bukan perkara lapar atau doyan, tapi lebih karena rasa jagung Tanon yang benar-benar gurih dan manis. Sebelum mengambil jagung berikutnya, penabuh gamelan bersiap menjajal beberapa nada. Nang duluan bergegas, sementara Har masih memanjakan hasrat kulinernya.

Nang seperti mengambil langkah seribu, ia menyekak Har nyelekit. “Kang Trisno lulusan Sosiologi tapi membangun desa wisata. Kalau situ kan lulusan Pariwisata, tapi membangun Jakarta ya? Situ Gubernur?”. Tatapan hampa terlihat di wajah lelaki yang pernah mengenyam pendidikan tinggi jurusan Pariwisata itu. Kopi hitam yang kerap ia namai kopi hitam kupu-kupu, buru-buru ia tenggak hingga seperdelapan ampas. Sejauh itu, belum ada kalimat terlontar dari mulutnya. Tentunya selain kemungkinan-kemungkinan akan suara batinnya yang merintih lantaran mati gaya.

Langit mendung melukis angkasa Tanon. Bersamanya, Salsa, gadis seusia kelas 5 sekolah dasar, tengah larut dalam alunan padu-padan suara gamelan. Melalui sajian tari Topeng Ayu, gadis kecil yang bercita-cita menjadi pelukis ini, gemulai benar dalam menyelami tari tradisional warisan leluhurnya. Wajah lugunya kerap menebar senyum simpul, lalu memecah binar tatkala ritme nada bergerak meninggi. Bersama empat belas kawan penari lainnya, ia adalah genarasi baru penyelamat peradaban budaya di kampungnya.

Atraksi Tari Topeng Ayu

“Senang sekali. Tapi nggak ganggu belajar kok, kan udah biasa nari jadi nggak harus sering latihan”.  Ucap bibir mungilnya ketika ditanya tentang perasaannya saat itu. Dengan lugunya, ia juga menceritakan kalau dirinya sering mendapat uang saku dari Kang Trisno usai menari, “Aku dikasih uang dan aku bisa nabung, beli buku, beli sepatu, pokoknya seneng banget”. Demikian curahan hati seorang Salsa untuk menggambarkan rasa syukur atas kampungnya yang kini berlimpah berkah.
Nang Berpose Bersama Salsa

Rupanya, konsep Kampung Berseri Astra di Dusun Tanon, tak hanya mengusung tema kebersihan lingkungan belaka. Lebih dari itu, Astra membina warga untuk produktif yang pada akhirnya berimbas kemakmuran. Apa yang telah diperjuangkan Kang Trisno, dan berbagai potensi yang ada, dieksplor habis-habisan. Tak terkecuali keindahan alam dan keluhuran budaya yang merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Kaya.

Menurut Har, bahkan tak hanya Tanon. Indonesia yang rerata pedesaan, pun dianugerahi yang kurang lebihnya sama. Kenyataan itulah yang membuatnya kian menyesal. Ia dan beberapa kawan perantau kerap menganggap sepele kampungnya sendiri. Dipikirnya, kampung hanya indah untuk singgah, tapi mustahil untuk berkah. Padahal setelah menilik Tanon,  semestinya tidak demikian.
Sososk Har, Perantau yang Humoris

Semangat Kang Trisno dan jejak Astra menginspirasi negeri, merupakan pelajaran berharga bagi Har dan sekian banyak perantau lainnya. Har sadar benar, usai hari raya, anak-anak desa biasanya berebut ke kota untuk mencari peruntungan nasib. Mereka tinggal di petak-petak kecil kontrakan, menjalani kehidupan dengan dalih masa depan yang belum tentu gemilang. Tanpa keterampilan yang memadai, tiap tahun anak-anak desa memenuhi ruang-ruang ibu kota yang kian sesak dengan ritme kehidupan yang amat penat. 

Mereka seperti tidak menyadari, bahwa Tuhan telah menganugerahkan berbagai potensi di tanah kelahirannya sendiri. Alam yang indah, kebudayaan yang adilihung dan kehidupan masyarakat yang bersahaja, semestinya menjadi modal yang tiada ternilai untuk menggapai masa depan yang lebih cerah. Mereka lupa tentang makna syukur yang sesungguhnya. 

Gua sama temen-temen sebenernya ya susah-susah juga hidup di kota. Tapi tadinya kalau mau balik, bingung mau ngapain dan karena gua pikir nggak ada apa-apa, kan? Sekarang, jujur gua nyesel”. Ucapnya dalam suatu obrolan di perjalanan pulang. Diiringi gerimis senja hari, Xenia yang dikendalinya menembus waktu, menyambut pekat malam dan rinai hujan yang kian deras. Ia memaknai ini sebagai perjalanan penuh inspirasi. 




10 Responses to "Menilik Tanon, Menggapai Inspirasi Pulang"

  1. Wih, keren dan inspiring banget nih. Indonesia butuh banyak orang2 kayak kang trisno ini.. Btw, tulisannya Mas Yoyo selalu cakep. Bolehlah saya diajari tentang diksi, Mas.. Semoga melenggang ke jakarta ya, Mas..

    BalasHapus
  2. Makasih mas, sukses juga buat sampeyan

    BalasHapus
  3. Tulisan yang inspiring banget mas....thanks telah berbagai informasi seperti Astra Berbagi... :)

    BalasHapus
  4. Betul, Mbak. Sepanjang perjalanannya sejak tahun 1957, Astra memang senantiasa menginspirasi negeri dengan karyanya untuk kemajuan bangsa Indonesia. Tks udah berkunjung.

    BalasHapus
  5. Sekarang memang makin banyak desa wisata yang bagus :) Kalau begini perekonomian masyarakat juga bisa meningkat dengan menfaatkan kreatifitas yang ada ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali om, semoga ke depan inspirasi Astra membuat banyak daerah lebih bersemangat dalam menggali potensinya. Tks ya udah berkunjung..

      Hapus
  6. nah ini, inspiratif banget
    jadi pengen berkunjung ke sana buat melihat lebih jauh Kampung Berseri Astra :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas Choirul Huda. Iya, saatnya kita berkunjung ke Indonesia kita, negeri kita, kekayaan dan anugerah kita sendiri.

      Hapus
  7. kampung tanon ini menarik ya... ternyata ada sumbangsih astra juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Astra punya peranan menyelaraskan perjuangan kang Trisno dalam membesarkan nama kampung ini. Silahkan berkunjung ke sana Bung Deddy.

      Hapus