Logika Cara Kerja Sistem Keuangan pada Aplikasi Kasir Toko Portable dan EQioZ Olshop




Khusus untuk Anda yang yang sering mengalami tidak klop pada laporan keuangan pada aplikasi Kasir Toko Portable maupun EQioZ Olshop, dapat menyimak LogikaCara Kerja Sistem Keuangan pada Aplikasi Kasir Toko Portable dan EQioZ Olshop berikut ini.

Pada intinya, sistem keuangan pada kedua aplikasi ini menganut sistem stok BUKAN FIFO dan tidak menggunakan standar metode akuntansi.

Dikatakan menganut sistem stok BUKAN FIFO karena pada sistem ini akan merubah semua harga stok awal menjadi harga stok terakhir.

Sedangkan dikatakan tidak menggunakan standar metode akuntansi, itu karena pada kedua aplikasi ini hanya mencatat keluar masuk uang tunai saja. Sangat sederhana.

Alasan developer Genta Tekno tidak menggunakan standar metode akuntansi rupanya karena lebih banyak usernya yang awam.


Baik, kita mulai saja dengan logika pertama yakni pengertian LABA :

Definisi laba adalah harga jual produk kepada customer dikurangi harga beli produk terakhir dari supplier.

Apa itu harga beli produk terkahir? Kita akan paham setelah mengetahui fakta bahwa aplikasi ini TIDAK MENGGUNAKAN STOK FIFO.

Jika suatu sistem menggunakan stok FIFO, maka harga dasar produk akan sama persis sesuai dengan harga pembelian kepada supplier.

Contoh Kasus :
  • Suatu hari Pak Kasto membeli produk kabel data kepada supplier seharga Rp 10.000.
  • Sebenarnya produk kabel data itu belum habis, tapi Pak Kasto sudah order lagi (beli lagi) ke supplier.
  • Ternyata di order berikutnya itu, harganya sudah naik. Sebelumnya si masih Rp 10.000, tapi sekarang sudah menjadi Rp 12.000.
  • Nah, jika menggunakan stok FIFO, maka sistem pada aplikasi tetap mencatat stok sesuai harga pembelian kepada supplier. Dua harga dasar tersebut tetap tercatat secara terpisah.
  • Stok yang Rp 10.000 tetap tercatat dalam aplikasi, demikian pula dengan stok yang Rp 12.000 juga tetap tercatat.
  • Ketika Anda melakukan penjualan kepada customer, otomatis akan ada dua stok. Pertama stok yang masih Rp 10.000 dan kedua stok yang Rp 12.000.
  • Itu adalah logika kerja pada sistem stok FIFO. Dan pada aplikasi ini TIDAK MENGGUNAKAN STOK FIFO seperti penjelasan itu.


Aplikasi ini pakai sistem stok macam apa?

Sistem stok yang digunakan pada aplikasi ini BUKAN STOK FIFO. Gambarannya seperti pada kasus berikut ini :
  • Suatu hari Pak Kasto membeli produk kabel data kepada supplier seharga Rp 10.000.
  • Sebenarnya, produk kabel data itu belum habis, tapi Pak Kasto sudah order lagi (beli lagi) ke supplier.
  • Ternyata di orderan berikutnya, harganya sudah naik. Sebelumnya si masih Rp 10.000, tapi sekarang sudah menjadi Rp 12.000.
  • Nah, karena kami TIDAK MENGGUNAKAN STOK FIFO, maka sistem  pada aplikasi akan merubah semua harga DASAR yang sebelumnya yang Rp 10.000 menjadi harga terakhir yakni Rp 12.000.
  • Harga dasar stok sebelumnya yang tadinya Rp 10.000 akan dirubah secara paksa oleh sistem menjadi harga dasar terakhir, yakni Rp 12.000. Semuanya dirubah.
  • Ketika Anda melakukan penjualan kepada customer, otomatis tidak akan ada dua stok lagi. Stok pertama yang tadinya masih Rp 10.000 sudah berubah sesuai stok terakhir menjadi Rp 12.000.
  • Itu adalah logika kerja pada sistem STOK BUKAN FIFO yang digunakan pada kedua aplikasi ini.


Lalu apa alasan pada aplikasi ini merubah harga dasar stok awal menjadi harga dasar stok terakhir?


Sistem yang merubah semua harga stok awal menjadi harga stok terakhir didasarkan pada prinsip NILAI BARANG.

Logikanya, ketika suatu barang yang semula seharga Rp 10.000 kemudian menjadi Rp 12.000, maka sesungguhnya barang tersebut telah mengalami perubahan NILAI BARANG ke nilai yang lebih tinggi.

Sebelumnya, memang benar barang itu seharga Rp 10.000, tapi sekarang kan nilainya sudah berubah menjadi Rp 12.000.

Dengan kata lain, memang iya benar masih ada sisa barang yang nilainya Rp 10.000, tapi hari ini sebenarnya barang itu sudah bernilai Rp 12.000.

Bisa seperti itu, karena faktanya, saat sekarang ini Anda tidak akan bisa membeli  barang itu kembali dengan harga Rp 10.000.


Terus, kalau yang dimaksud PEMASUKAN itu gambarannya seperti apa?

PEMASUKAN yang dimaksud pada kedua aplikasi ini adalah pemasukan usaha diluar jual beli produk utama.

Misalnya :
- Hasil jual kardus
- Hasil jual barang rongsok
- Hasil uang tips karyawan
- Bonus uang dari supplier
- Dan sebagainya

Jadi, pemasukan yang dimaksud di sini adalah SELAIN keuntungan dari jual beli produk utama kepada customer.


Kalau  PENGELUARAN itu yang bagaimana?

PENGELUARAN yang dimaksud adalah pengeluaran usaha diluar jual beli produk utama.

Misalnya :
-Membeli tali rafia
-Membeli tas kresek
-Memberi uang kepada pengamen
-Membeli air mineral untuk customer yang datang
-Membayar honor/gaji
-Membayar listrik
-Dan sebagainya

Jadi, pengeluaran yang dimaksud di sini adalah pengeluaran SELAIN untuk membeli produk supplier yang nantinya untuk dijual lagi.


Baik. Sekarang kalau LABA. Apakah yang dimaksud dengan LABA?

Laba adalah keuntungan jual beli produk utama diluar PEMASUKAN dan PENGELUARAN seperti dijelaskan di atas.

Sebagai contoh, ketika Anda jual kardus, maka tidak masuk ke laba. Alasannya karena LABA hanya akan mencatat keuntungan jual beli produk utama saja.


Kalau OMSET? Omset itu apa?

Omset adalah keseluruhan nilai penjualan produk dan tidak termasuk pemasukan/pengeluran seperti yang dijelaskan point sebelumnya.

Dengan demikian, omzet itu bukan keuntungan bersih. Kalau Anda melihat laporan omzet Rp 15 juta, bukan berarti keuntungan anda segitu.

Lalu bagaimana jika Anda bertanya berapa keuntungan yang sesungguhnya?

Tentnya Anda bisa mengkaji dengan cara membaca ulang dari awal postingan ini, lalu menyimpulkan sendiri berdasarkan fakta yang ada pada aplikasi Anda.


Baca Juga :
Cara Import Data Produk via Excel Agar Lebih Cepat
Kelebihan Aplikasi Toko Online bernama EQioZ Olshop



0 Response to "Logika Cara Kerja Sistem Keuangan pada Aplikasi Kasir Toko Portable dan EQioZ Olshop"

Posting Komentar