Bangkitnya "Emas Hitam" di Kampung Iklim Bulakan Asri


Kehadiran saya pagi itu di Dusun Bulakan, Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, disambut hangat oleh pria bernama Taufiq. Dari senyumnya yang penuh simpatik, tak terlalu sukar untuk menyimpulkan bahwa Ia adalah pribadi yang ramah dan bersahabat.

Usai Taufiq menyalami erat dan memersilahkan masuk, sesaat langkah ini terhenti di halaman rumahnya yang tidak begitu luas namun asri. Ada berbagai jenis tanaman hias dan sayuran organik tertata apik yang membuat pandangan terfokus ke sana.

Sementara, di serambi rumahnya, seorang pria muda tampak asyik dengan aktivitasnya. Ia tengah menyortir biji kopi dalam beberapa wadah. Kopi yang bermutu jelek ia pisahkan, yang bagus ia persiapkan untuk dikemas.

“Mas Muhbar ini sedang menyortir biji kopi untuk memisahkan dari sisa kulit buah, kulit tanduk, biji pecah dan kotoran lainnya. Nantinya itu dikirim ke kafe yang ada di kota Purwokerto”, ujar Taufiq sembari memperkenalkan rekannya yang bernama lengkap Muhammad Muhbar.

Di ruang tamu yang berukuran kurang lebih 3x4,5 meter, Taufiq mulai memamerkan biji kopi hasil sortiran yang sudah dikemas dan siap roasting. Ada dua jenis kopi di sana, Robusta dan Liberica. Ia juga menceritakan awal mulanya hingga akhirnya menemukan kopi-kopi itu.


Muhammad Muhbar (19) sedang melakukan penyortiran biji kopi
(Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi)

“Biji kopi ini diperoleh dari pohon-pohon yang sudah ada sejak jaman dulu, dan sekarang masih banyak yang tumbuh di lahan-lahan warga. Menurut mitos, dulu kopi itu tanaman yang melambangkan kemakmuran”, ujarnya. 

Selain itu, Taufiq juga mengungkapkan bahwa untuk menemukan kopi-kopi itu ternyata melalui sederet perjuangan, tak langsung ketemu begitu saja. Selama ini, Ia dan beberapa rekan seperjuangan telah melakukan berbagai upaya untuk memajukan kampungnya. Termasuk kopi yang juga merupakan salah satu bagian dari perjuangannya.


Berawal dari Keyakinan untuk Maju

Pria kelahiran 1 Januari 1980 itu bernama lengkap Taufiqurrohman. Ia mengaku jika selama ini sering terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Sejak remaja, Ia sudah aktif di organisasi kepemudaan. Bahkan di usianya sekarang yang kepala tiga, Ia masih rajin dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan desa.

Tempat tinggalnya, Dusun Bulakan, memiliki jumlah penduduk kurang lebih 800 jiwa. Rata-rata latar belakang pendidikannya sekolah dasar, sebagian bahkan ada yang tidak sekolah. Taufiq menyebut, hingga saat ini warga Bulakan yang menempuh pendidikan tinggi paling-paling hanya sekitar 4 orang.

Kenyataan rendahnya pengetahuan dan pengalaman warga, membuat Taufiq dan beberapa rekan sering merasa kesulitan ketika menularkan program baru, sekalipun untuk kemajuan. Selama berjuang, Ia kerap mendapati hal-hal unik yang menurutnya tidak dialami di wilayah lain yang mungkin lebih modern.

“Waktu itu pernah ada nara sumber dari pusat dan provinsi, tapi sayang sekali banyak warga yang tidak paham bahasa Indonesianya”. Ungkap Taufiq menceritakan reaksi warga ketika ada nara sumber bermaksud menjelaskan suatu program, tapi justru tidak mudah diterima karena terkendala pemahaman bahasa Indonesia. 

Bukan itu saja, ketika di tahun 2015 ada pengenalan program biopori dan sumur resapan, malah ada warga yang mencibir dan menganggap tidak masuk akal. Alasannya, karena airnya tidak langsung masuk ke sumur. 

Kenyataan demikian, membuat para penggiat seperti Taufiq membutuhkan waktu lebih panjang dan energi lebih ekstra untuk menyukseskan program apapun. Mereka harus terlebih dahulu membuktikan bahwa sesuatu telah benar-benar berhasil. Kalau sudah begitu, barulah warga bergegas mengikuti.

Apapun kendalanya, Taufiq dan rekan-rekan seperjuangannya selalu optimis, suatu ketika pasti mampu membuktikannya. Hal itu didasari atas keyakinan bahwa setiap wilayah pasti memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Ketika potensi itu mampu memberikan hasil yang nyata, maka program apapun akan lebih mudah diterima warga.


Ketika Datang Harapan Baru 

Tahun 2014, Taufiq mendengar kabar bahwa ada perusahaan swasta yang akan mendukung Program Kampung Iklim (PROKLIM) Bulakan Asri di kampungnya. Kabar baik itu berhembus dari pondok pesantren Nurul Huda. 

Di Dusun Bulakan, Langgongsari, berdiri pondok pesantren khusus kaum dhuafa dengan jumlah santri kurang lebih 1.000 orang.  Latar belakang santrinya berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka gratis, tidak dipungut biaya. 

Perusahaan itu bernama PT Pamapersada Nusantara atau yang akrab di telinga warga dengan sebutan Pama. Sebelumnya, Pama dikenal lebih dulu oleh warga sebagai mitra yang telah lama membantu pondok pesantren Nurul Huda. 

Menurut Taufiq, kehadiran Pama merupakan bagian dari peranan swasta dalam menjalin kerja sama dengan pemerintah setempat guna menanggulangi perubahan iklim dan pengurangan emisi gas rumah kaca. Tujuan akhirnya, untuk memajukan dan menyejahterakan desa bersangkutan.

Sejak 2014 PROKLIM sudah mulai dikenalkan dan dipusatkan di pondok pesantren Nurul Huda. Tapi secara resmi, baru diluncurkan di tahun 2015. Taufiq sendiri, mengaku terlibat secara penuh dan akhirnya menjadi koordinator di tahun 2017.


Taufiqurrohman (38) koordinator Proklim Bulakan Asri.
(Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi)

PROKLIM adalah harapan baru bagi warga Bulakan kala itu. Taufiq berharap, bergabungnya Pama dalam menyukseskan PROKLIM, akan menjadi pemacu untuk mempercepat kemajuan kampungnya. Walaupun dalam hatinya, Ia juga paham bahwa mengajak maju orang-orang desa bukanlah perkara yang mudah.


Perjuangan yang Tidak Selalu Mudah

Awal-awal menjabat koordinator, Taufiq sempat menggencarkan program lingkungan yang selama itu belum optimal, yakni penanganan sampah. Atas bimbingan Pama, Taufiq dan beberapa rekan menyusun strategi baru untuk menggiatkan bank sampah.

Salah satu rekan yang diajak adalah Muqofa (50 tahun), yang kebetulan pengusaha rongsok. Taufiq sengaja menggandeng Muqofa karena alasan strategi. Ia pikir, dengan mengajak orang yang tahu potensi sampah, warga akan lebih tertarik.

“Iya, saya diajak Mas Taufiq karena saya dianggap ngerti bisnis sampah, jadi mungkin biar warga cepat percaya”. Ujar Muqofa yang saat itu saya temui di kediamannya yang tak jauh dari lokasi bank sampah. 

Menurut Taufiq dan Muqofa, konsep bank sampah sebenarnya amat bagus. Warga mengirimkan sampahnya ke bank sampah lalu dipilah-pilah antara organik dan anorganik. Sampah organik dipersiapkan untuk pupuk cair, sementara yang anorganik dan bernilai rupiah, dicatat dalam buku tabungan. Hasilnya bisa diuangkan jika sewaktu-waktu warga membutuhkan.

Cuma yang jadi kendala, waktu itu banyak warga yang belum mau mengantarkan sampahnya ke bank sampah. Kalaupun beberapa ada yang mau, jumlahnya tak sebanyak yang tidak mau. Ini tentunya akan mengganggu produksi pupuk cair yang sedang ditunggu-tunggu untuk budidaya sayuran organik. Faktanya, program-program itu jalan secara bersamaan.

Satu-satunya cara yang dipikirkan Taufiq adalah mencari sukarelawan. Taufiq dan Muqofa harus mencari orang yang bersedia menjemput sampah warga hingga ke rumah-rumah. Mereka pikir, hanya strategi jemput bola yang paling memungkinkan jika berharap percepatan.

Pilihan Taufiq akhirnya jatuh ke tangan anak-anak muda yang tergabung di organisasi kepemudaan Forum Fata Bulakan (FFB). Selama ini, mereka sudah cukup berperan aktif dalam berbagai kegiatan PROKLIM. Contohnya kebersihan lingkungan, kampanye cinta lingkungan dan membantu Muqofa di bank sampah.


Peranan muda-mudi :
Membantu Muqofa di Bank Sampah (kiri), Kampanye cinta lingkungan (kanan)
(Sumber Foto : Dokumentasi Taufiqurrohman)

Sebelum berpikir jauh tentang strategi jemput bola, Taufiq  juga sempat memahami resikonya. “Kalaupun ada (sukarelawan), mungkin sebulan dua bulan bisa, tapi kalau selamanya saya kan pastinya tidak enak”. Ujarnya membayangkan kelemahan strategi menggandeng sukarelawan. Tapi pikiran itu sempat ia kesampingkan sejenak, yang penting jalan dulu, katanya.

Benar saja, dengan metode jemput bola yang dibantu rekan-rekan FFB, program penanganan sampah berjalan efektif. Lantaran dijemput, warga yang biasanya tak peduli, merasa malu dan akhirnya mempersiapkan sampahnya. Anak-anak muda dengan sigap menjemput sampah warga menggunakan sepeda motor.


Menutup Celah Kesenjangan

Lambat hari, program bank sampah berjalan baik. Dari apa yang sudah dilakukan, masih muncul kelemahan yang jika tidak ditangani akan menimbulkan kesenjangan. Semua Taufiq pikirkan dengan hati-hati, agar siapapun yang kelak meneruskan perjuangan, tidak menemukan permasalahan lama yang berlarut-larut.

Salah satu permasalahan yang muncul adalah penjemputan sampah ke rumah-rumah warga. Selama ini, penjemputan dilakukan menggunakan sepeda motor. Taufiq menganggap itu sebagai celah permasalahan. “Motor itu kan pakai bensin, kalau begitu terus-terusan kan saya juga kasihan. Makanya saya cari solusi lain untuk nutup yang itu”, ujar Taufiq.

Hingga di akhir-akhir 2017, Taufiq sempat berpikir tentang potensi lain untuk menutupi celah sebelumnya. Ia melirik tanaman kopi yang dulu sempat melegenda dan sekarang masih tumbuh di lahan-lahan warga. Jika dapat dikembangkan, Ia berpikir mungkin akan ada hasilnya. 

Membahas sejarah kopi di kampungnya, Taufiq sempat meriwayatkan cerita para sesepuh desa. Katanya, zaman dahulu kopi termasuk tumbuhan pengaji (istimewa, punya wibawa). Tak heran jika para penjajah mengincar kopi untuk dibawa ke negaranya. Desa yang banyak tumbuhan kopi, akan dianggap istimewa dibandingkan dengan desa lain yang tidak memiliki.

Karena dianggap bernilai, dulu menikmati minuman kopi tidak dilakukan setiap saat. Kopi baru disajikan ketika ada dayoh (tamu istimewa), atau sedang ada acara-acara khusus seperti pengantenan (perkawinan) atau sepitan (khitanan). Orang yang mampu menyajikan kopi, akan dianggap  memiliki status sosial lebih tinggi.

Seiring berkembangnya waktu, kopi tak seistimewa dulu lagi. Bagi warga Banyumas secara umum, sebelum akhirnya munculnya kopi instan plus gula yang populer sekarang, masih ada warga yang memilih kopi tumbuk tradisional. Kopi jenis itu dijual di warung-warung dan dikemas menggunakan plastik bening lalu direkatkan menggunakan api diyan (sejenis lampu minyak). 

Sebelum kopi instan muncul, sempat pula muncul  kopi bubuk pabrikan tanpa gula. Namun, sebagian warga masih cenderung memilih kopi tumbuk tradisional karena harganya lebih murah. Memang ampasnya terasa lebih kasar, tapi rasanya lebih mantap. Itu karena berasal dari biji kopi asli yang disangrai lalu ditumbuk.

Dalam berbagai jamuan hajatan, kopi tumbuk sempat eksis dan menjadi minuman yang disajikan malam hari untuk menemani lek-lekan (berkumpul di tempat hajatan hingga pagi hari untuk menghangatkan suasana). Dengan air mendidih yang dimasak tungku, kopi bubuk menjadi teman setia lek-lekan yang biasanya ditemani penganan ketan goreng.

Sejak semakin populernya kopi instan di kisaran tahun 1990an, kopi tumbuk akhirnya redup. Warga tak mau lagi mengolah dan menjual ke warung-warung. Selain kalah saing dengan kopi yang ada di pasaran, harga jualnya juga amat jatuh. Lama-kelamaan, kopi tumbuk tradisional tak lagi muncul.

Menurut Taufiq, tumbuhan kopi yang sempat populer di zamannya, masih ada di Dusun Bulakan. Tumbuhan itu diabaikan tanpa ada perawatan hingga liar. Kalaupun ada yang sempat mengurus, hasilnya tak seberapa. Biasanya dijual ke pasar dan dibeli oleh orang-orang tua yang masih klangenan (hobi) dengan kopi tumbuk tradisional.


Tumbuhan kopi yang belum sempat terurus.
(Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi)

Dengan rasa penasaran saya yang kian besar, Taufiq mengajak langsung ke lahan-lahan warga yang ditumbuhi tanaman kopi. Mengendarai sepeda motor, tak lebih dari 5 menit kami sudah sampai. Satu per satu, ia mulai menceritakan tentang tanaman kopi yang ada di sana.

“Di sini ada jua jenis kopi, Robusta dan Liberica. Kopi Liberica ini tahan sekali dengan kekeringan dan lebih tahan hama, makanya bisa tumbuh liar seperti ini. Beda dengan Robusta yang gampang kena hama”.

Tak hanya di satu lahan, Taufiq bahkan mengajak mengamati lahan-lahan lainnya, termasuk mengamati tumbuhan yang liar dan sama sekali tidak terurus. Ini menjadi pengalaman yang cukup mengagetkan, karena di wilayah Banyumas, tidak semua daerah memiliki potensi sebagus ini.


Menjalin Hubungan Baik Adalah Kuncinya

Menyadari kampungnya ada tumbuhan kopi yang tak pernah tersentuh serius, Taufiq berusaha mencari informasi kesana-kemari tentang potensi kopi. Ia berharap, ada cara-cara atau metode tertentu yang memungkinkan tumbuhan kopi dapat dikembangkan. Atau paling tidak, bisa diolah secara mandiri untuk dipasarkan di wilayah setempat.

Di awal-awal tahun 2018, Taufiq berkenalan dengan Heri, pemilik salah satu kafe di kota Purwokerto. Mereka kemudian berdiskusi tentang kopi dan berbagai potensinya. Heri menjelaskan, sebenarnya kopi bukanlah komoditas yang main-main. Jika serius mengelola, tak mustahil kopi-kopinya akan bernilai jual tinggi.

Heri juga sempat menyemangati Taufiq dengan mengatakan bahwa minum kopi sudah bukan lagi hal biasa, tapi sudah merupakan gaya hidup. Di perkotaan, seperti Purwokerto misalnya, setiap tahunnya bermunculan kafe-kafe baru. Mereka mengejar peruntungan dengan menjual kopi sebagai produk utama yang sangat bergengsi.


Taufiq (kiri) bersama Heri (kanan).
(Sumber Foto : Dokumentasi Taufiqurrohman)

“Heri sempat memberitahu pada saya bahwa satu cangkir kopi harganya bisa antara Rp30.000 sampai Rp70.000, itu kan bukan main-main. Padahal orang sini menjual kopi ke pasar satu kilo paling-paling  Rp17.000”. Ujar Taufiq sembari geleng-geleng kepala.

Tak sekadar memotivasi, waktu itu Heri bahkan bersedia membantu memasarkan di kafenya jika memang memenuhi syarat. Taufiq menjadi semakin bersemangat.  “Mungkin dengan kopi ini perjuangan saya akan segera ada hasilnya”. Ujarnya dengan wajah yang menggambarkan rasa optimis.

Lantaran dukungan Heri, Taufiq menyadari pentingnya menjalin hubungan baik dengan orang yang memang sudah ahlinya. Ia terus- menerus berkomunikasi dengan Heri, baik untuk berkonsultasi tentang kualitas kopi, maupun pemasarannya.


Generasi Muda adalah Pilihan Tepat

Taufiq sudah paham jika kopi sangat prospektif, tapi ia juga sadar bahwa lagi-lagi, mengajak warga tidak semudah membalikkan telapak tangan, Ia tetap butuh contoh nyata. Untuk melancarkan aksinya, jelas ia membutuhkan dukungan pihak lain.

“Sebelum mengajak warga saya mengajak anak-anak muda dulu. Saya mulai menceritakan bahwa tumbuhan kopi yang selama ini disepelakan sebenarnya sangat menjanjikan”, begitu ungkap Taufiq. Ia bersyukur karena ajakannya disambut antusias oleh anggota Forum Fata Bulakan (FFB).

Bermaksud meyakinkan generasi muda akan potensi kopi di wilayahnya, Taufiq tak mau tanggung-tanggung. Ia menggandeng Heri agar terjun langsung ke kampungnya dan mengadakan seminar kopi berjudul “Ngaji Kopi”. Di sana, anak-anak muda dan beberapa warga diundang untuk mengetahui kopi dan berbagai potensinya.

Quotes Ngaji Kopi
(Sumber Foto : Instagram @langgongsari.id)


Quotes Ajakan Budidaya Kopi
(Sumber Foto : Instagram @langgongsari.id)

Ada empat hal yang dibahas dalam seminar tersebut, yakni mendata pohon kopi warga, rehabilitasi pohon agar hasilnya optimal, menyajikan kopi, dan mengajak warga untuk memanfaatkan lahan agar meningkat kualitas maupun kuantitasnya.

Proses awal yang kemudian dilakukan Taufiq dan tim adalah memanen dan menyortir biji kopi. Setelah itu, mereka melakukan penjemuran, pengupasan, penyortiran kembali dan pengemasan tahap awal. Sebelum roasting (pembakaran), hasil itu dikonsultasikan terlebih dahulu kepada Heri. 

“Setelah kopi dipanen, lalu disortir dan dikeringkan. Barulah kemudian dikupas kulitnya dan disortir lagi. Hasil sortiran dikemas untuk sementara menggunakan plastik sebelum diroasting. Untuk roasting masih dibantu teman, karena kami belum punya alatnya”. Ujar Taufiq menjelaskan proses pemanenan, pengemasan, hingga roasting.

Bagi Taufiq, hadirnya generasi muda telah sejenak melupakan susahnya mengajak warga untuk mau menerima hal-hal baru. Ia mengakui, mereka membuat semangatnya terus menyala.  Ia bahkan merencanakan untuk menempatkan anak-anak muda di garda depan bagi kemajuan kampungnya, utamanya menyukseskan PROKLIM yang sudah didukung Pama.

“Anak-anak muda membuat saya semakin semangat dan merasa muda. Makanya untuk ke depannya, saya tetap mengharapkan mereka berpartisipasi di semua bidang PROKLIM lainnya, bukan hanya kopi saja”. Ungkap Taufiq berusaha memuji peranan generasi muda di kampungnya.


Usaha yang Tak Mengkhianati Hasil

Taufiq juga menyebutkan, kali pertama memperkenalkan kopinya kepada Heri adalah di tahun 2018. Waktu itu, tanpa disangka-sangka, Heri menyukai kopi yang diberi nama Langgongsari. Heri mengatakan, kopi Langgongsari tak kalah mantap dengan kopi  wilayah lain. Terlebih kopi jenis Liberica yang punya aroma kuat dan keharuman mirip buah nangka.

Hingga suatu ketika, Taufiq mendapati kabar bahwa permintaan terhadap kopi Langgongsari meningkat. Bahkan, Heri yang kerap berkomunikasi dengan rekan-rekan pemilik kafe, ingin mencoba memasarkan ke kafe-kafe lainnya.

Kenyataan tersebut membuat Taufiq dan beberapa rekan merasa gembira sekaligus khawatir. Dibilang gembira, karena perjuangannya mulai menunjukkan hasil. Dibilang khawatir, karena minimnya modal yang pasti akan mengganggu perjuangannya ke depan.

Semula, ia tak bermaksud merepotkan Pama. Taufiq menganggap, Pama sudah terlalu banyak membantu kampungnya. Ia akan lebih bahagia jika mampu mandiri dan tidak terus-menerus bergantung kepada Pama. Namun dengan kondisi modal yang terbatas, tak ada solusi selain meminta dukungan kembali.

Usai menyatakan hal itu, pihak Pama merespon positif perjuangan Taufiq dan rekan lainnya. Mereka sangat mendukung kopi Langgongsari berkembang lebih pesat. Tak hanya menawarkan bantuan dana, Pama juga bersedia mendukung semua kegiatan yang berhubungan dengan kopi, mulai produksi hingga pemasaran.

Atas dukungan itu, Taufiq dan beberapa rekan tak mau kehilangan kesempatan emas. Mereka menyegarkan produknya dengan mencetuskan nama baru yaitu "Kopi Iklim". Artinya, kopi yang dihasilkan dari kampung iklim. Tak hanya itu, kemasan kopinya pun dibuat semakin profesional, tujuannya agar mampu bersaing di pasaran.

Bagai peribahasa “ada gula ada semut”, berita tentang kopi yang ternyata didukung juga oleh Pama, kian hari menyebar luas ke telinga warga. Saat itu, semakin banyak yang mempercayakan Taufiq dan tim FFB untuk membina pembudidayaan kopi agar hasilnya optimal. Tanpa pikir panjang, Taufiq dan tim bergegas menangani.

Salah satu yang menjadi agenda penting adalah kebiasaan warga yang tidak mau merawat tanaman miliknya hingga menyebabkan gosong dahan. “Tadinya mereka tidak mau merawat dan dibiarkan liar sehingga jarak tanaman kurang rapat. Akhirnya muncul jamur yang menyebabkan gosong dahan (ujung dahannya mati)”, ucap Taufiq.

Khusus untuk tumbuhan yang kadung terkena gosong dahan, Taufiq dan tim menyarankan agar melakukan pemangkasan pada cabang yang terkena jamur dengan jarak minimal 10cm dari bagian yang terdapat jamur. Cabang hasil pangkasan bisa dibakar atau dikubur dalam lubang sedalam minimal 30cm. Khusus pohon yang terlalu parah, diharapkan agar disisakan 3-4 cabang saja.

Taufiq juga membekali warga dengan memberikan pengetahuan jarak antar tanaman yang paling tidak 2,5 hingga 3 meter. Ia meminta warga menanam pohon alba untuk menjaga agar tanaman kopi tumbuh dalam naungan yang ideal. Edukasi semacam ini berusaha Ia lakukan seraca konsisten dan berkelanjutan.


Penanaman pohon alba dan pengaturan jarak tanam.
(Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi)

“Ini salah contoh lahan milik warga yang saya bina. Saya meminta untuk menaman pohon alba di tengah-tengahnya untuk membantu agar tanaman kopi tetap rimbun. Khusus jarak tanaman yang tadinya berantakan, sudah mulai kami atur paling tidak 2,5 sampai 3 meter”. Ungkap Taufiq penuh kebanggan ketika mengekspresikan perjuangannya yang kini sudah dilirk warga.

Berkat kerja keras Taufiq bersama anak-anak muda FFB, ternyata membuahkan hasil menyenangkan. Menurut Taufiq, sebelumnya, warga yang biasa menjual kopinya ke pasar paling-paling dihargai Rp17.000/kg. Setelah Ia dan tim mampu menjual ke kafe dengan harga lebih tinggi, berani membeli ke warga hingga Rp25.000/kg untuk jenis Robusta dan Rp27.000/kg untuk Liberica.

Keuntungan Taufiq tentu jauh lebih besar, karena ia menjual ke kafe per 100 gram, tidak per satu kilogram. Untuk jenis Robusta saja, Ia mampu menjual hingga Rp25.000/100gr. Sementara jenis Liberica, ia jual dengan harga Rp30.000/100gr. Dari hasil itu, dialokasikan untuk biaya pemeliharaan, pemanenan, penyortiran, roasting, pengemasan hingga pendistribusian.

Tak lupa, Taufiq dan tim sengaja mengalokasikan keuntungan untuk kepentingan penjemputan sampah ke rumah-rumah warga dan kegiatan lain yang menyangkut masyarakat luas. Kesemuanya mereka lakukan agar antara bidang PROKLIM yang satu dengan yang lain saling mendukung, tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Kami juga bermimpi banyak kafe yang ada di wilayah sini. Kalau bisa, pertama Kopi Iklim bisa terkenal dan lebih banyak pendapatannya. Kedua, orang yang datang karena ingin mencicipi kopinya bisa sekalian berwisata melihat-lihat Agrowisata Bulak Barokah. Mereka bisa belanja produk kami yang sudah dibina Pama seperti sayuran organik, tanaman hias, gula semut, dan barang kerajinan dari sampah. Jadi semuanya saling berhubungan”. Ungkapnya penuh harap.


Ketika Sang Legenda "Emas Hitam" Bangkit Kembali

Atas apa yang sudah diaraih, Taufiq juga mengungkapkan bahwa dukungan Pama kepada warga Bulakan merupakan bagian dari perhatian Pama untuk turut menyukseskan PROKLIM. Termasuk dukungan terhadap kopi, juga tak terpisahkan dari upayanya mendukung warga agar bergegas menuju kesejahteraan.

Kini, tumbuhan kopi di Kampung Iklim Bulakan Asri yang sebelumnya pernah melegenda, bangkit kembali dengan menyandang predikat lebih tinggi. Logo Satu Indonesia yang tersemat di kemasannya, membuat Taufiq dan para penggiat melenggang penuh percaya diri. Hadirnya Kopi Iklim akan mejadi "Emas Hitam" yang berharga dan siap menjadi pintu gerbang kesejahteraan di masa depan.

Bahkan, tak akan lagi dipasarkan ke warung-warung seperti masa jayanya dulu. Dengan penanganan yang serius dan dukungan perusahaan besar, Kopi Iklim diharapkan bisa menembus pasar yang jauh lebih prestisius. Seperti dipasarkan ke kafe-kafe, atau kedai-kedai kopi yang siap membeli dengan harga yang lebih tinggi.

Atas hubungan baik yang terjalin dengan Heri, Taufiq juga merasa kalau sekarang ini menjadi lebih bersemangat. Kelak, Ia akan mampu memenuhi permintaan ke kafenya, termasuk kafe rekanan Heri lainnya. Dengan kemasannya yang bagus dan kualitas yang semakin terjaga, Taufiq dan tim merasakan kalau kopi Iklim tak akan kalah bersaing dengan brand-brand lokal lainnya.



Kopi Iklim, masa depan Kampung Bulakan.
(Sumber Foto : Dokumentasi Taufiqurrohman)

“Panen ini (Desember 2018), 60% Pama juga bantu jual. Untuk biaya produksi semua dari Pama. Seterusnya Pama benar-benar wujudkan mimpi kami karena sudah memesankan alat roasting dan alat-alat kafe. Rencananya akan dibangun kafe di sebelah sana yang tadi ada tanaman hiasnya”. Ungkap Taufiq dengan senyum yang memancar gembira.

Kendati didukung perusahaan besar, Taufiq juga senantiasa mengingatkan warga untuk tak membuat itu jadi manja, tapi justru sebagai tantangan dan pacuan. “Saya bilang walaupun didukung perusahaan besar sebaiknya kita jangan manja, tapi harus merasa malu dan segera mandiri”, ujarnya.

Termasuk juga kepada anak-anak muda, Taufiq memotivasi untuk terus mendukung dengan membantu memasarkan. “Kami juga sudah meminta anak-anak muda untuk melakukan pemasaran di sosial media. Apalagi mereka kan ngerti teknologi, makanya memasarkan lewat Instagram, hasilnya bisa untuk biaya sekolah atau untuk kebutuhan lainnya”.


Saatnya Bersyukur dan Berterima Kasih 

Pama atau PT Pamapersada Nusantara yang selama ini membina Program Kampung Iklim (PROKLIM) Bulakan Asri, merupakan perusahaan swasta yang dinaungi PT Astra International Tbk. Dukungan terhadap PROKLIM merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) atau semacam tanggung jawab sosial perusahaan secara berkelanjutan kepada masyarakat luas.

Dalam Program Kampung Iklim (PROKLIM) yang dibina Pama, ada 4 aspek yang tengah digodok. Keempatnya adalah lingkungan, kewirausahaan, kesehatan dan pendidikan. Khusus penanganan kopi, masuk dalam aspek kewirausahaan.

Taufiq yang berusaha ingin mewakili suara warga Bulakan, mengucapkan terima kasih sekaligus rasa syukur. Bagi mereka, peranan Pama dinilai sangat membantu menyejahterakan warga kampungnya. Ia berharap,  Pama tak bosan-bosannya untuk terus mendukung.

“Syukur dan terima kasih sekali. Terus terang kami sudah banyak merepotkan Pama. Bantuan yang kami terima juga tidak sedikit. Dulu setiap ada kegiatan harus selalu urunan (kolekan), tapi sekarang tidak lagi. Mudah-mudahan ini terus berlanjut”. Ujar Taufiq penuh harap.

Diluar apa yang sudah diaraih, Ia dan pengurus PROKLIM juga merasa masih memiliki banyak kekurangan di sana-sini. Ia menyadari itu sebagai suatu proses yang harus berkesinambungan, tidak bisa instan dan dikerjakan tergesa-gesa. Ke depannya, ia memiliki tantangan yang pastinya lebih berat lagi.

“Saya si tidak mau ngomong muluk-muluk karena mengabdi pada masyarakat itu banyak sekali tantangannya. Kalaupun sekarang ada yang sudah jalan itu masih belum apa-apa. Seperti bidang pendidikan, itu masih kami rintis dan terus kami komunikasikan dengan Pama. Kalau bidang kesehatan kami sudah memberikan penambahan gizi balita. Program lingkungan, kami mengadakan penghijauan seperti penanaman pohon rambutan, sirsak, jambu dan matoa. Untuk biopori, sumur resapan (lingkungan) dan sayuran organik (kewirausahaan) malah sekarang sudah semakin kelihatan hasilnya. Kedepannya pasti butuh kerja keras lagi”.  Ungkapnya percaya diri.

Bagi Taufiq, hal yang sangat Ia kagumi dari Pama adalah dukungan dan bimbingannya yang tulus. Perusahaan itu tidak datang ketika kampungnya sudah jadi, tapi justru ketika belum ada apa-apanya. “Ibarat bayi kami dirawat dan diasuh seperti sekarang oleh Pama. Ada apa-apa saya akan konsultasi dengan Pama karena merekalah yang membantu kami sejak awal”, ujarnya penuh kerendahan hati. 

Dari Taufiq dan teman seperjuangannya, kita belajar bahwa nikmatnya perjuangan adalah pada proses yang berliku dan mendebarkan, soal hasil akan menjadi bonus atas semua proses itu. Dengan demikian, kita tak akan lekas puas dengan apa yang sudah diraih. Selalu merasa malu, penuh keterbatasan dan ingin berbuat lebih bukanlah keluhan, melainkan ungkapan jiwa untuk sadar diri dan tak lekas tinggi hati.

Dari Pama, kita belajar tentang arti ketulusan. Pama datang bukan karena ingin mendukung dari apa-apa yang sudah jadi, melainkan memberikan uluran tangan sejak awal, sejak belum apa-apa dan belum bisa berbuat banyak. Dukungan atas dasar ketulusan itulah yang membuat Taufiq dan warga kampungnya menyadari bahwa kedatangan Pama adalah simbol cinta kasih yang pantas disambut gembira.

Dari warga Bulakan, kita belajar makna kesederhanaan dan kebersahajaan. Mereka bukan tak mau maju, tapi membutuhkan hal-hal sederhana untuk menutrisi hati dan menggugah pikiran. Dalam kebersahajaan tentu tersimpan ketulusan. Ketulusan untuk menerima hal-hal tulus oleh mereka yang berjiwa tulus. Semuanya berjalan begitu alami, mengalir tenang. Seperti air sungai yang mengalir hingga akhirnya bermuara ke lautan.


2 Komentar untuk "Bangkitnya "Emas Hitam" di Kampung Iklim Bulakan Asri"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel